AI Pencabut Nyawa
ILUSTRASI AI Pencabut Nyawa.-Arya/AI-Harian Disway-
Itu adalah taktik simalakama yang brilian. Jika Tiongkok menurut dan mengirim kapal, berarti Beijing secara tidak langsung tunduk pada hegemoni Washington di Teluk. Jika Tiongkok menolak, Washington akan menuding Beijing sebagai parasit yang enggan bertanggung jawab atas krisis dunia.
Di saat para pemimpin negara adidaya asyik bermain catur geopolitik tersebut, mesin pembunuh AI itu terus menyala. Mencari anomali. Merangkai data. Menyiapkan target berikutnya.
Lalu, lihatlah bagaimana Tiongkok dan Rusia pasti bereaksi. Beijing dan Moskow pasti sedang keringat dingin. Para jenderalnya tentu memutar otak. Mereka sadar bahwa teknologi yang dibangun untuk melindungi penguasa ternyata bisa berbalik memakan tuannya.
Melihat semua kegilaan itu, ingatan saya kembali ke ogoh-ogoh di Lapangan Puputan.
Ogoh-ogoh itu dibakar agar kejahatan dan kekacauan musnah. Agar besoknya manusia bisa memulai hidup dari titik nol dengan hati yang lebih bersih.
Sayang, sistem kecerdasan buatan di langit Timur Tengah sana tidak bisa dibakar dengan obor bambu. Server-server itu ditanam di dalam bunker yang kebal rudal. Algoritma itu terus belajar. Terus berevolusi. Terus menyempurnakan seni mencabut nyawa. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: