Adu Narasi Donald Trump dan Iran tentang Akhir Perang: Klaim Segera Berakhir untuk Tenangkan Pasar
ALAT BERAT membersihkan puing-puing gedung yang dihajar rudal di Teheran, 23 Maret 2026.-AFP-
Klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tentang adanya “pembicaraan sangat baik” dengan Iran langsung dibantah. Di tengah perang yang masih berlangsung, dua pernyataan itu muncul hampir bersamaan. Membentuk narasi yang saling bertolak belakang. Tapi, pasar merespons positif.
DONALD Trump pada Senin, 23 Maret 2026, mengatakan Washington dan Teheran telah melakukan perbincangan yang produktif selama dua hari terakhir. Trump bahkan menyebut pembicaraan itu mengarah pada resolusi komplet dan total konflik di Timur Tengah yang sudah berjalan tiga pekan.
Trump mengaku telah memerintahkan Pentagon untuk “menunda semua serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari.” Penundaan itu, katanya, bergantung pada keberhasilan pembicaraan yang sedang berlangsung.
Namun, dari Teheran, respons yang muncul justru sebaliknya. Media Iran mengutip kementerian luar negeri yang membantah adanya pembicaraan seperti yang diklaim Trump. Tidak ada konfirmasi resmi mengenai kontak langsung antara kedua negara.
BACA JUGA:Donald Trump Melunak, Siap Akhiri Perang Iran
Alih-alih mengakui jalur diplomasi, narasi yang berkembang di Iran mengarah pada motif lain. Trump disebut sedang berupaya menekan harga energi global yang melonjak akibat perang. Klaim soal pembicaraan dinilai sebagai bagian dari manuver tersebut.
Perbedaan itu langsung terlihat dampaknya di pasar. Sesaat setelah pernyataan Trump dirilis, harga minyak dunia turun tajam. Brent anjlok lebih dari 14 persen ke sekitar USD 96 per barel. Sementara West Texas Intermediate turun ke USD 84. Pasar merespons cepat sinyal akhir perang itu, meskipun belum ada kepastian di lapangan.
Situasi di medan konflik sendiri belum menunjukkan tanda mereda. Pada hari yang sama, Israel kembali melancarkan serangan ke Teheran. Gelombang serangan terbaru bahkan dilaporkan terjadi hanya beberapa menit setelah pernyataan Trump muncul.
Artinya, operasi militer tetap berjalan. Tidak ada jeda yang benar-benar terlihat, meskipun ada klaim penundaan serangan dari pihak AS.

ANGGOTA BULAN SABIT MERAH (kanan) menenangkan penghuni peerumahan yang tertegun setelah huniannya dihantam rudal di Teheran, 23 Maret 2026.-AFP-
Sebelumnya, Trump mengeluarkan ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz. Jalur itu sangat strategis karena menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Jika tidak dipenuhi, Trump mengancam akan “menghancurkan” pembangkit listrik Iran.
Iran merespons dengan nada keras. Teheran mengancam akan menanam ranjau laut di Teluk dan menargetkan fasilitas energi di kawasan. Retorika itu memperlihatkan eskalasi yang belum mereda.
Di lapangan, Iran juga disebut telah memperketat lalu lintas di Selat Hormuz. Selain itu, serangan dilaporkan menyasar fasilitas energi dan kedutaan besar AS di kawasan Teluk, serta target di Israel.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: