MBG, Antara Martabat dan Rasa Lapar
ILUSTRASI MBG, Antara Martabat dan Rasa Lapar.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Pertama, MBG tetep jalan. Sebab, manfaatnya terbukti nyata. Cuma, harus rasional dengan tidak menggusur dan mengambil dana pendidikan, kesehatan, dan pembangunan infrastruktur.
Hidup tidak sekadar soal makan bergizi. Tapi, pikiran juga harus ”bergizi”, kenyaman pelayanan kesehatan juga harus jadi prioritas. Santer di media, anggaran beli buku dan program literasi di Perpusnas juga terkuras untuk MBG.
Kedua, kelompok sasaran penerima manfaat harus disurvei dan tata ulang. Prioritaskan untuk yang membutuhkan. Masyarat miskin, sekolah di desa, pinggiran kota, dan daerah tertinggal.
Anggaran Makan Bergizi Gratis dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp335 triliun perlu dievaluasi. Fungsi legislasi DPR RI dijalankan. Tanpa harus dipaksa oleh keputusan MK, wajib dipotong 50 persen, misalnya.
Ketiga, ketika Prabowo gencar menyuarakan gerakan efisiensi nasional, terbukt program MBG bertentangan dengan itu. Kelonggaran terjadi di mana-mana. Inefisinsi merajalela. Para ekonom dan ahli anggaran sudah menilai.
Kalau itu diteruskan, akan ada hukum alam yang bergerak. Martabat yang dijaga akan runtuh, bukan dari luar, melainkan dari dalam sendiri. Waktu yang menghantar. (*)
*) Yusron Aminulloh, wartawan senior.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: