MBG, Antara Martabat dan Rasa Lapar
ILUSTRASI MBG, Antara Martabat dan Rasa Lapar.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Kunjungan berpindah ke sebuah sekolah SMA. Tidak jauh dari SD tadi. Suasana berbeda, tidak sesemangat anak SD tersebut. Apalagi, menunya sama karena dari SPPG yang sama.
Para remaja itu sudah punya selera. Punya pandangan berbeda. Mereka menerima MBG, tetapi tidak sesemangat anak SD tersebut. Kata para guru, kadang kalau menu cocok, akan dimakan habis. Tapi, kalau tidak, banyak yang tidak habis.
Kondisi itu adalah gambaran tentang program MBG di Indonesia. Makin kelas ekonomi masyarakat ke bawah, makin diterima antusias. Makin kelas ekonomi menengah ke atas, makin banyak penolakan atau diterima dengan terpaksa.
BACA JUGA:Menuju Model Hybrid Pengelolaan MBG
BACA JUGA:MBG dan Ambisi Generasi Emas 2045
Itu sesuai hasil riset Universitas Indonesia (UI) soal MBG.
Riset UI (FISIP dan LabSosio) terkait Makan Bergizi Gratis (MBG) pada awal 2026 menunjukkan temuan ganda.
Pertama, program itu berhasil meningkatkan semangat belajar (27,9 persen) dan gizi siswa, tetapi menghadapi tantangan serius berupa tingginya sisa makanan (food waste) karena hanya sekitar lima siswa per kelas yang menghabiskan makanannya.
Itu tidak dapat dimungkiri. Sesuai realitas di Indonesia yang menghasilkan 14,7–34 juta ton sampah makanan per tahun (40 persen dari total timbunan sampah), menjadikannya salah satu penghasil food waste terbesar.
Pemborosan itu berdampak serius pada lingkungan (gas metana), ekonomi, dan sosial, bertolak belakang dengan kondisi 8,34 persen penduduk yang kekurangan pangan.
BACA JUGA:Uji Diskresi Program MBG
BACA JUGA:MBG, Mengawal Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045
Martabat kedua. MBG adalah program unggulan dan utama Presiden Prabowo. Meski hujan angin dan badai kritik makin besar dari hari ke hari, tidak mungkin Prabowo akan stop MBG. Ia akan mati-matian mempertahankan. Sebab, manfaat bagi masyarakat terbukti signifikan.
Ini soal martabat, harga diri yang harus dipertahankan. Bahwa tata kelola masih jauh dari sempurna, akan diperbaiki. Bahwa menguras dana APBN sampai Rp1 triliun sehari di tengah sempitnya fiskal, akan ditata ke depan.
Sebab, desakan bubarkan program MBG punya dampak ekonomi luas. Protes keras dari semua jajaran. Pengusaha yang sudah investasi, ritel, pemasok, sampai level jutaan pekerja yang sudah terlibat. Usulan penghentian MBG dianggap irasional, bahkan mengganggu stabilitas nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: