Ketika Tiongkok dan Korea Utara Kembali Terhubung: Wanita Itu Tak Sabar Ingin Pulang…

Ketika Tiongkok dan Korea Utara Kembali Terhubung: Wanita Itu Tak Sabar Ingin Pulang…

SUASANA GERBONG kkereta K27 menuju Pyongyang dari Stasiun Beijing, 12 Maret 2026.-ADEK BERRY-AFP-

BACA JUGA:Meneropong Peta Jalan Lima Tahun Tiongkok hingga 2030: Labubu dan Ne Zha Gairahkan Soft Power

Namun, pembukaan kembali jalur fisik menunjukkan bahwa Tiongkok tetap memainkan peran penting. “Dengan membuka kembali konektivitas fisik, Tiongkok menunjukkan bahwa Korut yang bersenjata nuklir adalah realitas geopolitik,” kata analis Seong-Hyon Lee yang dikutip Agence France-Presse.

Artinya, hubungan itu bukan sekadar ekonomi. Ada dimensi strategis.

Tapi, di tataran individu, dampaknya terasa lebih personal.

Di sebuah restoran Korut di Dandong, seorang pelayan perempuan berbicara pelan. Dia berasal dari Pyongyang. Sudah lebih dari enam tahun ia berada di Tiongkok. Tidak bisa pulang sejak perbatasan ditutup.

Kini, dengan jalur transportasi mulai dibuka, dia melihat peluang. “Saya akan segera pulang,” katanya.

Memang, selama bertahun-tahun, ribuan warga Korut terjebak di luar negeri. Sanksi internasional melarang mereka bekerja di luar. Namun, banyak yang tetap tinggal di kota-kota seperti Dandong.

Penutupan perbatasan membuat mereka tidak bisa kembali. Pemerintah Korut bahkan memperketat penjagaan untuk mencegah penyeberangan ilegal.

Sekarang, situasi mulai bergeser. Cukup untuk menyalakan harapan.

Di sisi lain, persepsi terhadap Korea Utara tetap beragam.

Seorang turis dari Shenyang memilih hanya melihat Korut dari jauh. “Di sana totaliter, rakyatnya dicuci otak,” ujarnya. Ia enggan disebut namanya.

Sementara itu, wisatawan asing justru penasaran. Louis Lamb, perawat asal Brisbane, memasukkan Korut dalam daftar kunjungannya. “Anda melihat Korut dari perspektif media. Saya ingin merasakannya sendiri,” kata Lamb.

Dan dari seberang sungai, Lamb sudah punya pendapatnya sendiri. “Korut lebih berkembang dari yang saya kira,” ujarnya.

Artinya, Korut tetap menjadi negara yang menimbulkan banyak persepsi. Juga penasaran. Tertutup, tetapi memancing rasa ingin tahu.

Di tengah semua itu, kereta tetap berjalan. Pelan. Hampir kosong. Tapi pasti. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: