Ketika Tiongkok dan Korea Utara Kembali Terhubung: Wanita Itu Tak Sabar Ingin Pulang…

Ketika Tiongkok dan Korea Utara Kembali Terhubung: Wanita Itu Tak Sabar Ingin Pulang…

SUASANA GERBONG kkereta K27 menuju Pyongyang dari Stasiun Beijing, 12 Maret 2026.-ADEK BERRY-AFP-

Perahu wisata hilir mudik. Mengangkut pengunjung yang ingin melihat langsung kehidupan di seberang. Warga Korea Utara terlihat bersepeda di tepi sungai. Ada yang membersihkan perahu. Di beberapa titik, penjaga berseragam berdiri.

BACA JUGA:Prabowo Lantik 6 Dubes Baru, Termasuk untuk Korea Utara, Jepang, dan Aljazair

BACA JUGA:Teguh Santosa: Bendera Merah Putih Kembali Berkibar di Korea Utara

Semua itu menunjukkan bahwa batas itu belum benar-benar terbuka. Tetapi juga tidak sepenuhnya tertutup.

Bagi pelaku usaha, situasinya masih menggantung.

Li Shuo, pengelola biro perjalanan di Dandong, belum merasakan dampak dari kembalinya kereta penumpang. Bisnis tur ke Korut masih berhenti total. Ia hanya bisa menjual paket wisata di area perbatasan.

“Kami hanya bisa menunggu kabar,” katanya. “Kalau visa dibuka, itu akan bagus untuk wisatawan domestik,” lanjutnya.

Permintaan sebenarnya ada. “Banyak orang ingin pergi,” ujar Li.

Sebelum pandemi, arus wisatawan cukup besar. Sekitar 300 ribu turis asing datang ke Korut pada 2019. Sekitar 90 persen adalah warga Tiongkok. Angka itu menunjukkan betapa pentingnya koneksi antara kedua negara. Terutama lewat jalur darat.


MAHASISWA TIONGKOK memamerkan paspor dan tiket kereta menuju Pyongyang.-ADEK BERRY-AFP-

Rel kereta menjadi urat nadi. Bukan hanya untuk manusia, tetapi juga barang.

Di jalur kereta itu, arus logistik sudah lebih dulu pulih. Kereta barang dan truk melintas cukup ramai dari Dandong ke Sinuiju. Data bea cukai Tiongkok mencatat nilai perdagangan mencapai USD 2,7 miliar dolar tahun lalu. Hampir kembali ke level sebelum pandemi.

Bagi Korut, angka itu sangat penting. Di tengah sanksi internasional akibat program nuklir, perdagangan dengan Tiongkok menjadi penopang utama ekonomi.

Di sisi lain, hubungan dua negara tersebut tidak selalu mulus. Ada dinamika politik yang naik turun. Dalam beberapa tahun terakhir, Pyongyang juga mendekat ke Rusia, terutama setelah perang Ukraina.

BACA JUGA:Jalan Terjal Tiongkok Menjadi Pemimpin Global

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: