UM Kupas Strategi Tiongkok, Minta Mahasiswa Adaptif dan Visioner Hadapi Tantangan Global
Rektor UM bersama Direktur Disway Malang menunjukkan dokumen kerja sama yang baru ditandatangani, disaksikan Dahlan Iskan, sebelum dimulainya Seminar internasional Understanding Contemporary China di Universitas Negeri Malang (UM), Kamis, 2 April 2026.-Disway Malang-
MALANG, HARIAN DISWAY - Diskusi tentang kebangkitan Tiongkok kembali mengemuka di Universitas Negeri Malang (UM).
Melalui seminar internasional Understanding Contemporary China yang digelar Kamis, 2 April 2026, satu kesimpulan kuat mengerucut: kekuatan Tiongkok dibangun dari konsistensi perencanaan jangka panjang.
Forum yang menghadirkan Konsul Jenderal Tiongkok di Surabaya Ye Su serta tokoh media nasional Dahlan Iskan ini tidak berhenti pada tataran akademik.
BACA JUGA:SNBP 2026: Universitas Negeri Malang Pastikan Passing Grade Bukan Acuan Resmi
BACA JUGA:Datangkan Pengajar dari Universitas Negeri Malang, KBRI Singapura Latih Warga Singapura Main Gamelan
Diskusi berkembang menjadi pembacaan strategis tentang bagaimana sebuah negara mampu menjaga arah pembangunan dalam jangka panjang.
Seminar yang diselenggarakan Confucius Institute Malang bersama Disway Malang dan Harian Disway tersebut menegaskan bahwa kemajuan Tiongkok bukanlah hasil instan.

Seminar internasional di UM bahas strategi global dan kemajuan Tiongkok, dorong mahasiswa siap bersaing dan memahami dinamika geopolitik dunia.-Disway.id-
Negara itu menjalankan rencana pembangunan lima tahunan secara konsisten sejak 1953. Sebuah pola yang menjaga stabilitas sekaligus memastikan pertumbuhan tetap terarah.
BACA JUGA:Agresivitas Universitas Negeri Malang Duduki Puncak Klasemen Cabor Tarung Derajat
BACA JUGA:Prabowo Bertemu Menteri Keamanan Tiongkok, Bahas Stabilitas Kawasan dan Kerja Sama Strategis
Rektor UM Prof Hariyono mengingatkan bahwa melihat Tiongkok tidak bisa hanya dari permukaannya saja.
“Tiongkok bukan sekadar negara, tetapi peradaban besar dengan fondasi sejarah yang kuat,” tegasnya.
Pernyataan itu menjadi penekanan penting: memahami kekuatan suatu negara harus dimulai dari akar sejarah, bukan sekadar capaian modernitasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: