Menjaga Nadi Digital di Selat Hormuz: Mengantisipasi 'Kiamat' Internet Global
ILUSTRASI Menjaga Nadi Digital di Selat Hormuz: Mengantisipasi 'Kiamat' Internet Global.-Arya/AI-Harian Disway -
Di Indonesia, dampaknya tidak main-main. Menurut para ahli telekomunikasi, gangguan masif di jalur itu bisa melumpuhkan transaksi harian kita, mulai perbankan internasional hingga layanan sesederhana QRIS dan media sosial yang kita gunakan untuk berbisnis.
Begitu kabel-kabel itu putus, pemulihannya membutuhkan waktu berminggu-minggu dengan kapal khusus yang mustahil beroperasi secara aman di zona perang.
Diversifikasi dan kedaulatan data dunia, termasuk Indonesia, tidak boleh lagi bergantung pada satu atau dua jalur komunikasi global saja. Perlu ada langkah nyata yang bersifat solutif.
Pertama, redundansi jalur (digital bypass). Seperti halnya Arab Saudi dan UEA yang mulai membangun koridor data darat melalui pipa minyak untuk menghindari Selat Hormuz, Indonesia harus mendorong investasi pada jalur alternatif. Misalnya, jalur lintas kutub atau optimalisasi jalur kabel laut selatan yang lebih stabil.
BACA JUGA:7 Negara Ini Diizinkan untuk Melintas di Tengah Blokade Selat Hormuz, Tidak Ada Indonesia
BACA JUGA:Krisis BBM Imbas Penutupan Selat Hormuz, Filipina Impor Minyak dari Rusia
Kedua, kedaulatan data domestik. Memperkuat infrastruktur data center di dalam negeri agar layanan publik dasar dan transaksi lokal (seperti QRIS dan perbankan domestik) tetap berjalan meskipun koneksi internasional terganggu.
Ketiga, diplomasi infrastruktur digital. Mendorong perlindungan kabel bawah laut menjadi agenda utama hukum internasional. Kabel fiber optik harus dipandang sebagai ”fasilitas kemanusiaan global” yang tidak boleh disentuh pihak yang bertikai.
Kita harus berhenti memandang Selat Hormuz hanya dari kacamata minyak mentah. Di dasarnya terdapat denyut nadi peradaban modern kita.
Jika kita tidak segera menyiapkan mitigasi atas potensi itu, kita hanya sedang menunggu waktu sampai seluruh sistem ekonomi dan sosial kita tenggelam bersama kabel-kabel yang terputus di dasar laut. (*)
*) Supangat adalah wakil Rektor II Univeritas 17 Agustus 1945 (Untag), Surabaya, serta dosen Fakultas Teknologi Elektro dan Infomatika Cerdas (FTEIC) Untag, Surabaya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: