Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (7): Kampung Tas Tanggulangin, Eksis Meski Terhimpit

Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (7): Kampung Tas Tanggulangin, Eksis Meski Terhimpit

Irawan Rahayu (berbaju hijau), owner UD Aqqib Jaya Collection. Ia memulai usaha itu dari nol. Saat ini, ia tetap eksis meski penghasilannya tak sebesar dulu.-Najwa Rana Iswari-Harian Disway

Di Tanggulangin, dua pengusaha tas masih bertahan menjalankan usahanya. Irawan Rahayu dan Wawan Karyawan. Meski pemasukan tak seberapa, keduanya tetap gigih. Tetap aktif meski banyak tantangan.

Kediaman Irawan berada di sudut gang kecil tepi sawah. Bangunan dua lantai bercat abu-abu. Dari luar, suara mesin jahit terdengar.

Ada aktivitas produksi di dalamnya. Harian Disway menemui owner UD Aqqib Jaya Collection itu pada 3 Februari 2026.

Irawan telah memulai usaha itu sejak awal tahun 2000-an. Saat itu, ia tidak punya modal besar. Bisa dibilang hanya modal nekat.

BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (5): Kampung Batik Jetis Tunggu Waktu Menuju Punah

“Awalnya saya produksi kecil-kecilan. Pinjam modal juga dapat sedikit. Belum ada KUR seperti sekarang,” katanya. Lalu pada 2002, ia membawa contoh tas. Berkeliling dari satu pasar ke pasar lainnnya. 


Suasana produksi dalam bangunan UD Aqqib Jaya Collection. Usaha itu kerap menerima pesanan dari berbagai daerah.-Najwa Rana Iswari-Harian Disway

Ia pun saat itu masih menentukan model. Serta aktif menawarkan langsung ke pembeli. Ia berkelana ke Semarang, Solo, Jogja, hingga Bandung.

Naik kereta, membawa produk-produk buatannya. Juga membawa uang tunai yang tak seberapa. Saat itu, ia belum familiar dengan sistem transfer.

Seiring waktu, usahanya menemukan jalan terang. Produksi meningkat. Ia berhasil membuka lapangan kerja. Saat ini, UD. Aqqib Jaya Collection mampu produksi 3.500 tas per minggu. 

BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (4): Kampung Batik Jetis, Hidup Segan Mati Enggan

BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (3): Kampung Batik Jetis, Canting Punya Nilai Seni

Irawan pun dapat pemasukan cukup besar. Dulu, jumlah karyawannya hampir 100 orang. Namun kini, karena berbagai tantangan, hanya tersisa 60 orang.

Ia menyebut, biasanya penurunan produksi terjadi saat Agustus hingga menjelang Iduladha. Sebab, daya beli masyarakat beralih pada kebutuhan jelang perayaan hari besar islam itu.

“Kalau order turun, banyak mesin nganggur,” ujarnya, kemudian tersenyum. Karena pemasukan minim dan kerja harus tetap berjalan, Irawan memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sejak 2021.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: harian disway