Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (7): Kampung Tas Tanggulangin, Eksis Meski Terhimpit

Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (7): Kampung Tas Tanggulangin, Eksis Meski Terhimpit

Irawan Rahayu (berbaju hijau), owner UD Aqqib Jaya Collection. Ia memulai usaha itu dari nol. Saat ini, ia tetap eksis meski penghasilannya tak sebesar dulu.-Najwa Rana Iswari-Harian Disway

BACA JUGA:Peluncuran Buku Seribu Gagasan Omah Ndhuwur, Hadirkan Perspektif Kritis tentang Kampung Bangunrejo

Ruangannya tidak terlalu besar. Di dalamnya tersusun tas wanita, sabuk, beberapa koper, dan dompet yang tertata rapi di etalase kaca. Di samping ruangan, ada sofa kecil untuk tamu.

Di bagian belakang toko, beberapa lembar bahan kulit tersusun. Para penjahit mengambil bahan tersebut. Lalu dikerjakan di rumah masing-masing.

Wawan memulai usahanya pada 2000an. “Modal awal kurang lebih sekitar 20 juta atau 10 juta. Itu sudah barang jadi,” katanya. Wawan fokus pada tas wanita yang menggunakan kulit domba. 

Dulu, omsetnya bisa puluhan hingga hampir 70 juta per bulan. Bisa lebih. Apalagi saat sedang ramai. Namun kini, jumlah itu menurun.


Produk tas berbahan kulit domba milik Wawan Karyawan. Kualitasnya tak berbeda dengan tas kulit branded. Bahkan harganya lebih terjangkau.-Najwa Rana Iswari-Harian Disway

BACA JUGA:Gerakan Kebudayaan Kampung Bangunrejo

BACA JUGA:Jeritan Kampung Dupak Bangunrejo Lewat Drama Monolog Sangkan Paran: Jantung Tanpa Hati

Kadang hanya separuhnya. Bahkan kurang. Bergantung proyek yang masuk. “Namanya usaha itu enggak mesti. Disyukuri saja,” ujar pria 60 tahun itu. 

Selain itu, ia tercatat sebagai anggota Intako sejak akhir 90-an. Saat itu, kondisi Tanggulangin masih sangat ramai. Setiap akhir pekan mobil pengunjung memadati kawasan tersebut.

Wawan kini memiliki dua penjahit atau perajin tas. Sementara sisanya freelance. Sistemnya, semua bahan disediakan oleh Wawan. Termasuk mesin jahitnya. Pemasarannya dilakukan melalui mulut ke mulut. 

Ia pernah mengirim tas ke Bogor dan Jakarta. Bahkan pernah menerima pesanan dalam jumlah besar. Ia pun mempromosikan produknya lewat online. Dibantu dua anaknya.

BACA JUGA:Kampung Kreatif Dupak Bangunrejo Meriahkan Peringatan Kemerdekaan RI dengan Sound Horeg dan Dongkrek

BACA JUGA:Kampung Sukolilo Guyub Selenggarakan Tradisi Kupatan 7 Syawal, Yang Sedang Lewat Juga Ikut Rebutan

Saat ini, produksi sedang menurun. Apalagi setelah tekanan hebat pasca Lumpur Lapindo. Ditambah pandemi Covid 19. Meski begitu, ia tetap membuka toko setiap hari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: harian disway