'Kopi Kok Asem?': Mengapa Arabika Sering Kalah Sebelum Diminum
Ilustrasi Arabica vs Robusta.-Salman Muhiddin-Nano Banana 2
Ada ironi kecil dalam budaya ngopi kita. Indonesia dikenal sebagai negeri penghasil kopi hebat. Dari Gayo, Toraja, Kintamani, sampai Ijen, nama-nama itu kerap disebut dengan bangga. Namun, begitu secangkir arabika disuguhkan tanpa gula, reaksi yang muncul justru sering spontan dan nyaris seragam: “Kok asem?”
Vonis dijatuhkan hanya dalam satu seruput.
Arabika lalu dianggap gagal. Tidak nikmat. Tidak cocok dengan lidah Indonesia. Seolah-olah ada hukum alam yang menetapkan bahwa orang Indonesia memang ditakdirkan lebih dekat dengan robusta.
Padahal, persoalannya bukan pada lidah. Persoalannya ada pada kebiasaan, distribusi, harga, dan cara pasar mendidik selera kita selama puluhan tahun.
Selera sering kali tidak lahir dari pilihan yang sepenuhnya merdeka. Selera dibentuk oleh apa yang paling sering hadir di depan kita. Dan dalam urusan kopi, yang paling lama dan paling luas hadir di depan masyarakat Indonesia adalah robusta.
Kopi yang akrab bagi banyak orang Indonesia adalah kopi yang pahit, pekat, kuat, kadang cenderung gosong, dan hampir selalu diminum dengan gula. Itulah kopi warung. Itulah kopi tubruk di rumah.
BACA JUGA:Rehat di DPC PDIP Bojonegoro, Pemudik Segarkan Diri dengan Kopi dan Teh Hangat
Itulah kopi sachet yang menemani ronda malam, perjalanan jauh, pekerjaan di sawah, hingga obrolan santai di teras rumah. Rasa itu kemudian menjadi standar. Bukan karena paling unggul, tetapi karena paling akrab.
Masalahnya, sesuatu yang terlalu akrab sering berubah menjadi satu-satunya ukuran kebenaran.
Karena itu, ketika arabika datang dengan watak berbeda—lebih ringan, lebih wangi, lebih kompleks, kadang fruity, kadang floral, dengan tingkat keasaman yang justru menjadi pesona utamanya—banyak orang tidak melihatnya sebagai kekayaan rasa.
Mereka justru melihatnya sebagai penyimpangan. Dalam benak sebagian masyarakat, kopi seharusnya menghantam, bukan bercerita. Kopi seharusnya pahit, bukan segar. Di titik itulah arabika kalah bahkan sebelum benar-benar diberi kesempatan.
Ini bukan sekadar soal selera pribadi. Ini soal struktur pasar.
Ketika robusta mendominasi produksi, robusta pula yang paling luas beredar. Ketika robusta lebih murah, ia menjadi pilihan yang lebih rasional bagi pasar massal.
Ketika industri kopi instan membutuhkan bahan baku yang ekonomis, stabil, dan mudah diterima masyarakat luas, robusta menjadi jawaban paling praktis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: