Kartini Survivor: Devi Mahardianingtyas, Penyandang Dwarfisme yang Jadi Andalan Kantor Imigrasi
Kartini Survivor: Devi Mahardianingtyas, penyandang dwarfisme yang jadi Duta Pelayanan Kantor Imigrasi Juanda ketika ditemui pada awal April 2026. -Devi Mahardianingtyas untuk Harian Disway-
RA Kartini memperjuangkan hak setiap perempuan untuk berdiri di atas kaki sendiri. Semangat itu dipegang teguh oleh Devi Mahardianingtyas. Sebagai penyandang dwarfisme, dia membuktikan bahwa emansipasi bukan soal kesetaraan gender. Tapi ruang bagi penyandang disabilitas untuk mandiri dan berdikari.
---
SUARA nyaring menembus rintik hujan yang menderas di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Surabaya, kawasan Juanda. Si pemilik suara adalah perempuan mungil dengan tinggi badan 138 cm. Dia tersenyum, menyapa Harian Disway.
Devi Mahardianingtyas, perempuan periang itu, sudah hampir dua tahun menjadi staf Kantor Imigrasi Juanda bagian pelayanan paspor. Jadi, jika Anda hendak membuat atau memperpanjang paspor, ada kemungkinan bakal bertemu Devi.
Pekerjaan Devi bisa dibilang nyaman. Dengan pendapatan yang cukup untuk menghidupi diri dan putra semata wayangnya. Sesuatu yang belum tentu bisa dinikmati oleh mereka yang posturnya lebih ideal sekalipun.
Sudah pasti, untuk sampai di tahap tersebut, Devi sudah lebih dulu menghadapi berbagai hal. Mulai dari diskriminasi, stigma, sampai disepelekan karena tinggi badannya.

Kartini Survivor: Devi Mahardianingtyas, penyandang dwarfisme yang jadi andalan Kantor Imigrasi Juanda ketika ditemui pada awal April 2026.-Devi Mahardianingtyas untuk Harian Disway-
"Sudah banyak, Mbak. Kalau soal disepelekan karena ini (Devi menunjuk badannya sendiri), sudah makanan sehari-hari," ungkap Devi kepada Harian Disway.
Masih ada kesedihan tertinggal di sorot matanya ketika dia berbicara. Namun, setiap menyelesaikan satu kalimat, dia menambahkan senyuman. Antara sudah move on, atau sudah kebal. Atau dua-duanya.
Sebelum menjadi petugas imigrasi, Devi pernah bekerja di sebuah bank BUMN. Bagian frontliner. Tepatnya di bagian call center. Pekerjaan itu membuat dia paham berbagai topeng manusia. Semua asam dan pahit dunia kerja sudah dia rasakan.
"Dikatain, dirasani (dibicarakan di belakang, Red), disepelekan, saya anggap sebagai angin lalu. Masuk kuping kanan. Keluar kuping kiri," kenangnya. Devi menghadapi tatapan rendah dari orang-orang. Baik customer maupun rekan-rekan kerja sendiri.
BACA JUGA:Hari Kartini: Antara Perayaan dan Pemaknaan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: