Pelecehan Seksual dan Refleksi Komunikasi Keluarga Kita

Pelecehan Seksual dan Refleksi Komunikasi Keluarga Kita

ILUSTRASI Pelecehan Seksual dan Refleksi Komunikasi Keluarga Kita-Arya/AI-Harian Disway -

Jika dilihat lebih dalam, fenomena itu tidak berdiri sendiri. Ia adalah refleksi dari bagaimana komunikasi dalam keluarga dibangun.

Dalam kajian komunikasi keluarga, Mary Anne Fitzpatrick menjelaskan adanya dua kecenderungan utama: menjaga keseragaman (conformity orientation) dan membuka ruang percakapan (conversation orientation).

Dalam konteks tersebut, yang tampak dominan adalah dorongan untuk menjaga keseragaman.

Nama baik harus dijaga. Anak tidak boleh mencoreng keluarga. Harmoni harus tetap terlihat utuh.

Namun, di sisi lain, ruang untuk percakapan terbuka justru menyempit. Isu sensitif seperti pelecehan seksual tidak benar-benar dibicarakan. Ia dihindari. Ditutup. Atau, dialihkan.

Akibatnya, keluarga tidak lagi menjadi ruang aman untuk berdialog. Ia berubah menjadi ruang kontrol.

Tempat di mana yang penting bukan apa yang benar, tetapi apa yang terlihat baik.

LOGIKA ”JANGAN BIKIN MALU”

Kondisi itu makin diperkuat oleh konteks budaya kita.

Sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kolektivistik, harmoni sosial sering ditempatkan di atas segalanya. Ada dorongan kuat untuk tidak mempermalukan kelompok. Tidak membuka aib ke ruang publik.

Dalam banyak situasi, nilai itu memang menjaga kohesi sosial.

Namun, dalam kasus seperti ini, ia bisa menjadi masalah.

Sebab, ketika ”menjaga nama baik” menjadi prioritas utama, keberanian untuk berpihak kepada korban menjadi lemah. Keadilan menjadi nomor dua.

Yang penting tidak lagi menyelesaikan masalah, tetapi memastikan masalah itu tidak terlihat.

KETIKA KORBAN MEMILIH DIAM

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: