Pelecehan Seksual dan Refleksi Komunikasi Keluarga Kita

Pelecehan Seksual dan Refleksi Komunikasi Keluarga Kita

ILUSTRASI Pelecehan Seksual dan Refleksi Komunikasi Keluarga Kita-Arya/AI-Harian Disway -

BEREDAR tangkapan layar percakapan yang diduga berasal dari grup orang tua mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Indonesia. Isinya menanggapi kasus pelecehan seksual di kampus.

Yang menarik –sekaligus mengusik– bukan hanya isi percakapannya, melainkan juga arah reaksinya.

Alih-alih menunjukkan empati kepada korban, percakapan itu justru dipenuhi kegelisahan lain. Kasus tersebut telah menjadi berita nasional. Ada rasa cemas. Ada kekhawatiran soal dampak yang meluas. 

Bahkan, muncul nada menyalahkan pihak yang membocorkan informasi, dianggap tidak bijak dan membuat persoalan menjadi ”bola liar”.

BACA JUGA:8 Kalimat Sering Dianggap Bercanda, Ternyata Bisa Masuk Pelecehan Seksual!

BACA JUGA:UI Selidiki Kasus Pelecehan Seksual di FH, Pelaku Terancam DO

Keaslian grup itu memang belum terkonfirmasi. Namun, isi percakapan tersebut sudah cukup memicu reaksi publik. Banyak yang menilai respons itu tidak berpihak kepada korban.

Di titik itu, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apa yang sebenarnya sedang kita lindungi?

DARI PELECEHAN SEKSUAL KE ”KEBOCORAN”

Pelan-pelan, fokusnya bergeser.

Kasus pelecehan seksual –yang seharusnya menjadi inti persoalan– justru terdorong ke pinggir. Yang muncul ke permukaan adalah soal kebocoran informasi. Siapa yang menyebarkan. Siapa yang membuat gaduh. Siapa yang dianggap memperkeruh suasana.

Itulah yang dalam komunikasi disebut sebagai pergeseran isu. Ketika substansi yang paling penting ditinggalkan, digantikan oleh hal yang terasa lebih aman untuk dibicarakan.

BACA JUGA:Mahasiswa FH UI Minta Maaf ke Korban Pelecehan Seksual di Grup Chat, Rektor UI: Kasus Dipantau

BACA JUGA:FH UI Tampilkan 2 dari 14 Mahasiswa Terduga Kasus Pelecehan Seksual, Dinilai Jadi 'Tumbal'

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: