Pelecehan Seksual dan Refleksi Komunikasi Keluarga Kita

Pelecehan Seksual dan Refleksi Komunikasi Keluarga Kita

ILUSTRASI Pelecehan Seksual dan Refleksi Komunikasi Keluarga Kita-Arya/AI-Harian Disway -

Dampaknya tidak kecil.

Korban yang melihat respons seperti itu akan berpikir dua kali untuk berbicara. Mereka belajar bahwa membuka suara bisa berujung pada penilaian, bukan dukungan.

Lingkungan yang seharusnya aman justru terasa mengancam –bukan hanya karena peristiwa yang dialami, melainkan karena respons sosial yang diterima.

Lebih jauh lagi, kepercayaan terhadap institusi, baik keluarga, kampus, maupun masyarakat, perlahan terkikis.

Dan, jika pola itu terus dibiarkan, ia akan menjadi siklus.

Kasus demi kasus akan muncul dengan pola respons yang sama: defensif, menghindar, dan minim empati.

EMPATI ATAU REPUTASI?

Kita mungkin tidak berada di dalam grup percakapan itu. Namun, cara kita menanggapi fenomena tersebut mencerminkan sesuatu yang lebih besar.

Komunikasi seperti apa yang sebenarnya ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya?

Jika keluarga hanya menjadi tempat menjaga citra, lalu di mana ruang untuk kejujuran? Jika empati dikalahkan oleh reputasi, lalu kepada siapa korban bisa berharap?

Jawabannya mungkin sederhana, tapi tidak selalu mudah dijalankan.

Mulai mendengar. Memberikan ruang dialog. Berani mengakui bahwa tidak semua hal harus ditutup demi terlihat baik.

Sebab, menjaga nama baik tidak seharusnya berarti mengorbankan orang lain.

Empati bukan pilihan.

Ia adalah tanggung jawab. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: