Nggetih

Nggetih

ILUSTRASI Nggetih.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Wayang Kulit

Ki Manteb Soedharsono sang Maestro wayang kulit yang selalu anggun membawakan berbagai lakon pewayangan dengan karakter kuat. Suluknya magis, indah bukan kepalang, bikin merinding.

Ki Entus tampil beda dengan daya kritis gaya bertutur yang cenderung banyak menyajikan pemberontakan batinnya melalui berbagai penokohan. Yang kemudian banyak memasukkan unsur Islam yang lebih meng-Arab dengan memasukkan salawatan dalam pertunjukannya.

Ke Seno, dalang muda yang mampu belajar dari para dalang sepuh, termasuk ke Ki Manteb sang guru. Ki Seno terkenal suka mengobrak-abrik alur lama dalam pewayangan. 

Namun, ia akhirnya mampu menciptakan dunia kritisnya yang enak disajikan dan mudah dicerna, bahkan bagi mereka yang awam terhadap wayang sekalipun. 

Reog

Prabu Klonosewandhono menggunakan barongan dan jatilan (cikal bakal Reog) untuk media mempersatukan kekuatan Bantarangin dan Kadiri, dengan mempersunting Dewi Songgolangit. 

Suru Kubheng menegur Brawijaya V (yang ternyata Surukubheng, termakan hoaks atas pola pikirnya sendiri salah mengolah informasi atas kebijakan sang raja memperkenankan Raden Patah mendirikan Kesultanan Demak) dengan kesenian reog yang menampilkan singo barong yang diduduki merak di atas kepalanya, yang digambarkan dengan dadak merak. 

Dikawal pasukan berkuda, jatil. Dengan tetap diarahkan oleh para sesepuh aji sepuh yang dilambangkan dengan para warok. 

Semua dalam satu kendali tujuan yang dilakukan dengan ritme yang teratur satu tujuan dalam kendali Prabu Klono Sewandono yang memegang management reward and ponishment bersimbol cambuk Samandiman sebagai pengingat, pengontrol, bahkan penghukum atas ketidaktaatan atas kebenaran yang diyakini bersama. 

Walau selalu dalam godaan Bujang Ganong yang seolah urakan, tetapi kelak menjadi daya dobrak dahsyat atas berbagai kemapanan semu dengan gaya dan reaksi spontannya. Semua dipastikan berjalan sesuai track-nya.

Seni Adalah Kecerdasan

Sekian dahsyat kritikan disajikan dalam berkesenian di atas tidak lantas menciptakan konstelasi baru yang makin kacau di tengah masyarakat. 

Bahkan, ketika seni ini sudah ”nggetih” (mendarah daging), ia mewujud menjadi gelombang dahsyat pemersatu masyarakat, bangsa, atau kepentingan. 

Leluhur kita sungguh bijaksana menjadikan seni sebagai alat untuk membangun kesadaran, menularkan frekuensi kebenaran, memendarkan cahaya-cahaya kemuliaan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: