Tembus 14,29% dari PDB, Biaya Logistik di Indonesia Jadi PR Besar

Tembus 14,29% dari PDB, Biaya Logistik di Indonesia Jadi PR Besar

Pemerintah kembali ingatkan pengusaha logistik untuk mematuhi aturan larangan melintas selama arus balik Lebaran 2026-Ditjen Hubdat Kemenhub-

HARIAN DISWAY – Biaya logistik Indonesia masih tergolong tinggi, yakni mencapai 14,29 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kondisi ini menjadi salah satu penghambat utama daya saing nasional di tengah ketatnya persaingan global.

Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda (Ditjen Intram) pun mendorong percepatan integrasi transportasi Multimoda serta digitalisasi sistem logistik. Langkah ini diyakini menjadi kunci untuk menekan biaya distribusi sekaligus meningkatkan efisiensi.

Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Risal Wasal, menegaskan bahwa pendekatan konvensional tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan logistik nasional.

“Biaya logistik kita masih relatif tinggi dan ini menjadi tantangan besar bagi daya saing. Karena itu, integrasi multimoda harus jadi strategi utama dalam sistem distribusi barang,” ujarnya dalam peluncuran Supply Chain Indonesia Exhibition & Conference 2026 di The Westin Jakarta, Kamis 30 April 2026.

BACA JUGA:Kesaksian Sidang Korupsi APBS: Tim Evaluasi Kemenhub Akui Izin Bermasalah, Namun Tak Dicabut dan Terima Honor

BACA JUGA:KAI dan Kemenhub Akan Tertibkan 1.800 Perlintasan


Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Risal Wasal.--Humas Ditjen Intram

Di sisi lain, sektor transportasi dan pergudangan justru menunjukkan tren positif. Kontribusinya mencapai 6,16 persen terhadap PDB dengan pertumbuhan 8,98 persen pada triwulan IV 2025. Sekaligus menjadi yang tertinggi dibanding sektor lainnya.

Namun, berbagai persoalan masih membayangi. Mulai dari dominasi moda darat, belum optimalnya integrasi antarwilayah, hingga kemacetan di kawasan perkotaan yang memperlambat distribusi barang.

Risal menilai, penguatan angkutan multimoda bisa menjadi solusi utama. Sistem ini menggabungkan berbagai moda transportasi dalam satu layanan terintegrasi sehingga distribusi menjadi lebih efisien dan fleksibel.

Ia bahkan menyebut pendekatan tersebut mampu menurunkan biaya logistik hingga sekitar 25 persen serta memangkas waktu pengiriman hingga 30 persen.

BACA JUGA:Kemenhub Panggil Manajemen Green SM Buntut Kecelakaan Kereta Api, Siapkan Audit Keselamatan

BACA JUGA:Kemenhub Hadirkan 4 Ribu Titik Pantau Mudik Real-Time, Dapat Diakses Lewat Aplikasi Gojek

Selain itu, pemerintah juga menggenjot digitalisasi melalui implementasi National Logistic Ecosystem (NLE). Sistem ini diklaim mampu meningkatkan efisiensi proses logistik hingga hampir 50 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: