Sudahkah Guru Sejahtera? Refleksi Hardiknas 2026

Sudahkah Guru Sejahtera? Refleksi Hardiknas 2026

ILUSTRASI Sudahkah Guru Sejahtera? Refleksi Hardiknas 2026.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

HARI Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2026 tahun ini mengangkat tema Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Tulisan ini akan mencermati kebijakan guru selama setahun belakangan. Sebab, kunci pendidikan bermutu adalah guru sebagai kurikulum yang hidup. 

Kualitas pembelajaran beriringan dengan kompetensi dan kesejahteraan guru. Pertanyannya, seberapa jauh negara menyejahterakan guru?

KESEJAHTERAAN DAN KOMPETENSI GURU

Dalam Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005, kata ”sejahtera” disebut dalam satu tarikan napas dengan ”tunjangan profesi”. Sertifikasi menjadi pintu masuk guru mendapatkan tunjangan yang harapannya berimplikasi pada peningkatan kompetensi dan kesejahteraan serta mutu pembelajaran.

Setidaknya ada beberapa kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang mengarah pada peningkatan mutu dan kesejahteraan guru.  Tahun 2025, Kemendikdasmen melaksanakan pendidikan profesi guru (PPG) untuk 804.157 guru yang terdiri atas 254.719 guru ASN dan 549.438 guru non-ASN. 

BACA JUGA:Dilema Moral bagi Guru: Menjadi Durna, Abiyasa, atau Bisma

BACA JUGA:Guru Hampir Setara Rasul

Selanjutnya, tunjangan profesi guru (PG) telah disalurkan untuk guru ASN sebanyak 1.482.430 guru dan guru non-ASN 400.179 guru. 

Menariknya, kebijakan tunjangan guru sekarang langsung ke rekening guru setiap bulan. Tidak seperti dulu, alurnya panjang. Mulai Kementerian Keuangan, masuk ke rekening kas umum pemerintah daerah, baru ke rekening guru. 

Akibatnya, sering terlambat, bahkan dibayar per tiga bulan. Sekarang bisa langsung dari Kemenkeu ke rekening guru setiap bulan. Itu merupakan inovasi kebijakan yang berpihak kepada guru.

Sertifikat mengajar dinilai tidak cukup. Agar guru terus belajar dan bertumbuh, Kemendikdasmen juga tampak mengadakan berbagai pelatihan untuk guru. 

BACA JUGA:Membumihanguskan Imajinasi Kemuliaan Guru

BACA JUGA:Guru… oh… Guru

Mulai pelatihan pembelajaran mendalam,  pelatihan koding dan kecerdasan artifisial, pelatihan STEM (sains teknologi, enjinering, dan matematika), pelatihan bimbingan konseling, hingga pelatihan kepemimpinan kepala sekolah. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: