Wajah Jurnalisme Negosiasi: Kebebasan Ditukar dengan Keselamatan

Wajah Jurnalisme Negosiasi: Kebebasan Ditukar dengan Keselamatan

ILUSTRASI Wajah Jurnalisme Negosiasi: Kebebasan Ditukar dengan Keselamatan-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Keempat, resistansi bersyarat. Beberapa jurnalis tetap melakukan investigasi, tetapi dengan strategi kolektif. Misalnya, berbagi data ke media nasional atau menyebarkan risiko.

Kelima, keamanan digital. Teknologi digunakan sebagai alat perlindungan, seperti penyimpanan data berbasis cloud yang berfungsi sebagai ”dead man’s switch”, jika terjadi sesuatu, informasi tetap tersebar. 

Strategi-strategi itu menunjukkan bahwa jurnalisme tidak mati di bawah tekanan. Namun, ia juga berubah bentuk dan menjadi praktik baru dalam jurnalistik yang adaptif terhadap lingkungan.

Apa yang dapat kita pelajari dan dapat kita jadikan refleksi dari potret praktik jurnalisme itu? 

Pertama, kebebasan pers bukanlah kondisi biner: bebas atau tidak bebas. Ia adalah spektrum yang dinegosiasikan setiap hari.  

Kedua, konsep efek gentar perlu diperluas. Ketakutan jurnalis tidak hanya berasal dari hukum, tetapi juga dari norma budaya dan relasi sosial. 

Ketiga, profesionalisme jurnalistik di tingkat lokal tidak bisa diukur dengan standar normatif semata. Apa yang tampak sebagai kompromi, dalam banyak kasus, justru merupakan strategi bertahan yang rasional. 

Keempat, pendekatan kebijakan yang hanya menekankan reformasi hukum tidak cukup. Perlindungan jurnalis harus mencakup dimensi budaya, ekonomi, dan keamanan. Sesungguhnya jika melihat hal itu, kebebasan pers adalah ruang yang terus dinegosiasikan.

MENJAGA API DI TENGAH TEKANAN NON-STATE

Dalam kondisi ideal, jurnalisme adalah praktik pencarian kebenaran tanpa rasa takut. Namun, dalam realitas masyarakat Madura, jurnalisme adalah seni bertahan, yakni menjaga keseimbangan antara kebenaran, keselamatan, dan keberlanjutan kerja.

Potret itu bukan kisah tentang kegagalan pers, melainkan tentang ketahanan. Para jurnalis lokal menunjukkan bahwa di bawah tekanan berlapis, ruang untuk kebenaran tetap bisa dibuka meski harus dinegosiasikan.

Pertanyaannya bukan lagi apakah pers punya ruang bebas atau tidak. Namun, yang lebih urgen adalah seberapa jauh media bersedia memahami dan memperjuangkan kebebasan pers sebagai proses yang kompleks, kontekstual, dan, sering masuk kategori berisiko tinggi. (*) 

*) Surokim, akademisi Universitas Trunodjoyo Madura.

*) Maksum, wartawan senior.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: