Guru untuk Gen Z: Saatnya Profesi Mulia Dihargai dengan Nyata
ILUSTRASI Guru untuk Gen Z: Saatnya Profesi Mulia Dihargai dengan Nyata.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
DATA Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) per Januari 2026 menyentak kesadaran kolektif kita. Minat generasi Z untuk menekuni profesi Guru, khususnya di tingkat sekolah dasar, merosot tajam hingga hanya menyisakan angka 11 persen. Fenomena itu bukan sekadar statistik ketenagakerjaan, melainkan alarm bagi masa depan peradaban bangsa.
Di tengah disrupsi digital yang kian kencang, para guru menghadapi risiko psikologis yang tinggi. Mereka harus menghadapi beragam beban administratif hingga kerentanan hukum di hadapan publik yang kian menghakimi mereka di media sosial.
Jika negara tetap bersikukuh menggunakan pendekatan lama, memuja guru dengan label ”pahlawan tanpa tanda jasa” tanpa jaminan kesejahteraan yang realistis, krisis pendidik adalah keniscayaan yang tak terhindarkan.
Tanda-tandanya sudah mulai terlihat. Saat ini mayoritas gen Z yang memilih menjadi guru mengaku melakukannya karena ”terpaksa” atau ”tidak ada pilihan lain”.
BACA JUGA:Dilema Moral bagi Guru: Menjadi Durna, Abiyasa, atau Bisma
BACA JUGA:Guru Hampir Setara Rasul
Jebakan Narasi Simbolis
Selama puluhan tahun, komunikasi publik kita terhadap guru terjebak dalam apa yang disebut sebagai symbolic appreciation.
Label ”pahlawan tanpa tanda jasa” telah menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi ia memberikan martabat moral. Di sisi lain, ia kerap digunakan secara subliminal oleh negara untuk membenarkan rendahnya imbalan finansial.
Dalam literatur komunikasi, Robert Entman melalui risetnya, Framing: Toward Clarification of a Fractured Paradigm (1993), menjelaskan bagaimana pembingkaian sebuah isu menentukan cara masyarakat memahami realitas.
Perlu diakui, selama ini pemerintah dan media membingkai guru dalam bingkai ”pengabdian penuh nestapa”. Bagi generasi Z yang tumbuh dalam transparansi informasi dan persaingan ekonomi global, bingkai itu diartikan secara pragmatis: profesi guru adalah jalur karier yang tidak menjanjikan secara finansial maupun masa depan.
Generasi Z adalah penganut kuat nilai self-actualization dan financial freedom. Mereka melihat para tutor online atau edu-kreator di platform digital meraih rekognisi dan kompensasi yang jauh melampaui guru formal.
Jika gap itu tidak dijembatani, sekolah formal hanya akan menjadi ”museum pendidikan” yang ditinggalkan talenta-talenta terbaiknya.
Di sisi lain, melemahnya minat menjadi guru juga berakar pada kaburnya identitas profesional pendidik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: