Derap Tentara di Sawah
ILUSTRASI Derap Tentara di Sawah.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
TENTARA dikerahkan jadi petani bukan barang baru. Tiongkok, Korea Utara, dan Vietnam sudah pernah melakukan itu.
Kini Indonesia memulai. Menhan Sjafrie Sjamsoeddin sudah bagi-bagi kaveling. Urusan garap padi dan jagung diserahkan kepada TNI-AD. Sedangkan TNI-AL yang sehari-hari mengarungi laut akan fokus menggarap kedelai, komoditas yang selama ini sebagian besar diimpor dari AS.
”Kami sudah melakukan pembagian tugas,” kata Sjafrie di gedung DPR, 19 Mei 2026.
Di setiap kabupaten akan didirikan batalyon. Info terbaru, di batalyon itu ada kompi pertanian atau kompi peternakan. Selain kompi zeni, medis, dan pasukan tempur.
BACA JUGA:Prabowo dalam Upacara TNI: Tidak Ada Bangsa Merdeka Tanpa Tentara yang Kuat
BACA JUGA:Kasus Bunuh Diri di Kalangan Tentara Israel Terus Terjadi
Rata-rata setiap batalyon beranggota 650 hingga 1.000 personel. Dipimpin perwira letnan kolonel. Per batalyon terdiri atas 3 atau 4 kompi, plus kompi markas. Sjafrie pun mengungkapkan road map, setiap tahun dibangun 150 batalyon. Target 2029 pun sudah semua kabupaten.
Tentu model Indonesia beda dengan Tiongkok. Indonesia mendesain dengan matang untuk melibatkan militer sektor pertanian. Tiongkok memobilisasi tentaranya (PLA) ke pertanian setelah perang yang dimenangkan kelompok komunis.
Mao Tse Tung yang saat itu memiliki 5 juta tentara memilih untuk mengerahkan pasukan menjadi petani. Pasukan yang jumlahnya sangat jumbo itu harus tetap bekerja daripada dibubarkan. Kalau Mao melakukan demobilisasi atau rasionalisasi pasukan, akan muncul problem baru. Misalnya, pemberontakan tentara yang kecewa.
Indonesia pascaperang kemerdekaan juga mengalami inflasi tentara. Pemerintah kita memutuskan untuk melakukan rasionalisasi. Pengurangan pasukan. Akibatnya, tentara yang kecewa melakukan pemberontakan di berbagai daerah. Di Sulsel. Di Sumbar.
Mao mengirim PLA agar berbaur dengan rakyat ke Xinjiang, Yunan, dan berbagai daerah untuk membuka lahan pertanian baru. Membangun irigasi. Yang membuat daerah tersebut sampai sekarang menjadi kawasan pertanian.
Korut sejak 1960-an juga mengerahkan tentaranya ke sektor pertanian dan konstruksi. Jumlah tentaranya lebih dari 1,2 juta setelah Perang Korea. Hasil mobilisasi, terciptalah Hotel Ryugyong dan Kaesong Industrial Park yang hingga kini dibanggakan pemerintah Korut.
Vietnam mengalami surplus tentara pascaperang saudara yang melibatkan AS. Kubu komunis sebagai pemegang kekuasaan mengerahkan tentara ke sektor luar militer. Termasuk pertanian. Namun, yang populer, militer jadi profesional menangani perusahaan besar. Misalnya, Viettel, yang awalnya unit komunikasi tentara, kini menjadi perusahaan telekomunikasi terbesar di Vietnam. Seperti Telkom di Indonesia.
Tapi, yang harus dicatat, Tiongkok, Korut, dan Vietnam berideologi komunis. Pemerintah tentu bertangan besi. Kendali negara di tangan elit Partai Komunis dan tentara. Semuanya harus garis lurus dengan penguasa. Apalagi, mereka melakukan itu di tahun 50-an hingga 70-an. Ideologi komunis mereka sangat kuat sehabis memenangkan perang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: