AI sebagai Daya Perang
ILUSTRASI AI sebagai Daya Perang.-Arya/AI-Harian Disway -
Senin lalu Andrej Karpathy bergabung ke Anthropic. Anda tahu Karpathy? Ia mantan kepala AI Tesla.
Salah seorang otak AI paling brilian sedunia.
Tugasnya di Anthropic: memakai Claude (AI buatan mereka) untuk mempercepat pelatihan Claude generasi berikutnya.
AI melatih AI. Perbaikan diri yang terus-menerus.
Di mana hal brilian itu terjadi? Di perusahaan yang baru saja diusir Pentagon karena menolak menjadikan mesinnya sebagai pembunuh.
Di saat yang sama, di forum dark web, perangkat lunak AI militer asyik dilelang para peretas setelah sistem GitHub kebobolan.
Lalu, NVIDIA? Malam itu sibuk melaporkan pendapatan kuartalannya yang selangit. Sambil tetap duduk manis sebagai satu dari delapan vendor tempur Pentagon.
Hasilnya Cuma 0,29 Persen
Lalu, ada angka yang bikin kita nyengir lebar.
Biro Riset Ekonomi Nasional merilis laporan: setelah tiga tahun heboh adopsi AI, ternyata produktivitas perusahaan cuma naik 0,29 persen.
Nol koma dua sembilan persen! Miliaran dolar dibakar.
Ribuan pusat data dibangun. Jutaan chip dirakit. Hasil produktivitas aslinya? Ya, cuma segitu.
Tapi, Pentagon jelas tidak peduli. Mereka bukan perusahaan yang mengejar margin produktivitas. Mereka itu tentara. Yang dikejar daya tempur.
Yang Tidak Bisa Dinyalakan Sendiri
Jadi, Saudara, seluruh keributan ini pada akhirnya adalah cerita tentang tombol mati. AI canggih yang tidak bisa Anda nyalakan listriknya sendiri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: