Polemik soal Instruksi Polisi Tembak Begal di Tempat: Bikin Petugas Bingung

Polemik soal Instruksi Polisi Tembak Begal di Tempat: Bikin Petugas Bingung

ILUSTRASI Polemik soal Instruksi Polisi Tembak Begal di Tempat: Bikin Petugas Bingung.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Dilanjut: ”Jangan sampai instruksi tembak di tempat oleh kapolda Lampung dipandang sebagai aksi balas dendam atas kematian personel Polda Lampung, Arya Supena. Perintah tembak di tempat merupakan suatu bentuk legitimasi pembunuhan di luar proses hukum.”

Kedua pihak sama-sama benar. Polisi menembak begal di tempat, benar, karena begal sudah meresahkan masyarakat. Menteri HAM benar, karena hak hidup orang, termasuk penjahat, bahkan teroris, harus dijaga. Jangan ditembak mati di tempat. Meski, instruksi kapolda cuma ”tembak di tempat”. Bukan tembak mati di tempat.

Ini polemik universal. Terjadi di seluruh dunia.

Dikutip dari Reuters, 25 Agustus 2020, berjudul Shot by cops, thwarted by judges and geography, karya lima reporter, yakni Andrew Chung, Lawrence Hurley, Andrea Januta, Jackie Botts, Jaimi Dowdell, memberitakan hal semacam itu.

Disebutkan, pengadilan di Amerika Serikat (AS) menunjukkan disparitas regional yang luas dalam memberikan kekebalan bersyarat, yang kini dikritik karena melindungi petugas yang dituduh menggunakan kekerasan berlebihan.

Kasusnya terjadi awal Juli 2016, menimpa pemuda kulit hitam David Collie. Ia ditembak polisi Fort Worth, Texas, AS. Ia tidak mati, tapi cacat.

Ceritanya, polisi Texas sedang mencari tiga pemuda kulit hitam perampok bersenjata. Tim polisi mengintai dari mobil patroli di suatu tempat, memburu pemuda kulit hitam yang saat itu tidak mengenakan baju.

Lalu, di lokasi itu muncul Collie yang tidak mengenakan baju. Ia persis seperti sosok yang diburu polisi.

Spontan, polisi menyerukan agar Collie angkat tangan. Collie yang semula menyelipkan tangannya ke saku celana kemudian mengangkat tangan. 

Video kamera di dasbor mobil patroli polisi menunjukkan, Collie berjalan menjauh dari kedua polisi sambil mengeluarkan tangannya dari saku dan mengangkat lengan. 

Saat itulah polisi Fort Worth, Texas, Hugo Barron menembaknya. Sebuah peluru berujung berongga menghantam punggung Collie, menusuk paru-parunya, dan memutus tulang belakangnya. Collie tumbang.

Collie kemudian dilarikan ke RS terdekat. Ia tidak mati. Tapi, kritis. Setelah berhari-hari dirawat, ia lumpuh dari pinggang ke bawah.

Lagi pula, Collie bukan penjahat yang sedang diburu. Polisi salah sasaran. Collie berada di tempat yang salah pada waktu yang salah.

Setelah sembuh, David Collie mengajukan gugatan penggunaan kekuatan berlebihan terhadap polisi Fort Worth, Texas, yang menembaknya. 

Collie berpikir, uang kompensasi dari penyelesaian atau putusan juri akan memberinya sedikit kemandirian setelah penembakan yang membuatnya kehilangan pekerjaan dan menggagalkan rencananya untuk kembali kuliah. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: