Mewujudkan Generasi Emas, Memitigasi Generasi Cemas
ILUSTRASI Mewujudkan Generasi Emas, Memitigasi Generasi Cemas.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Fenomena Generasi Cemas
Keinginan melahirkan generasi emas dihadapkan pada tantangan berupa potensi mewabahnya fenomena generasi cemas. Terma generasi cemas merujuk pada buku karya Jonathan Haidt yang berjudul The Anxious Generation (2024).
Buku itu merupakan hasil penelitian berdimensi psikologi dengan fokus utama bahaya penggunaan telepon pintar secara berlebihan bagi perkembangan mental anak dan remaja.
BACA JUGA:Mewujudkan Generasi Emas 2045
BACA JUGA:Membangun Generasi Emas di Era SDGs dan Revolusi Industri 4.0
Bahaya yang digambarkan Jonathan Haidt meliputi kurang tidur, kecanduan, merasa kesepian, dan depresi. Dampak jangka panjangnya adalah hancurnya kesehatan mental anak dan remaja akibat perubahan besar pada masa kanak-kanak.
Jonathan Haidt menambahkan bahwa persoalan kesehatan mental merupakan sebab utama insiden bunuh diri yang dilakukan kelompok anak-anak dan remaja.
Temuan Jonathan Haidt memperoleh afirmasi dari data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menunjukkan bahwa insiden bunuh diri merupakan penyebab utama kematian di kalangan anak muda secara global.
Insiden bunuh diri menyumbang sekitar 8 persen dari total kematian pada kelompok usia 15–29 tahun. Sejumlah penelitian juga menyatakan, sebesar 40 persen orang yang menderita depresi akibat persoalan kesehatan mental memiliki gagasan untuk bunuh diri.
BACA JUGA:Ujung Kans Generasi Emas
Besarnya insiden bunuh diri di kalangan anak-anak dan remaja jelas menjadi peringatan keras bagi dunia pendidikan dan orang tua.
Dalam kaitan ini, Jonathan Haidt mengingatkan pengaruh pergeseran budaya dunia anak yang semula diwarnai dengan beragam permainan di alam nyata (play base childhood) menjadi permainan berbasis internet/telepon (phone base childhood). Pergeseran itu terjadi karena menguatnya penggunaan gawai di kalangan anak dan remaja.
Permainan tradisional di alam nyata yang mendorong aktivitas fisik, seperti galasin (gobak sodor), engklek (taplak gunung), petak umpet, lompat tali, bola bekel, bola kasti, dan kelereng, begitu mewarnai kehidupan anak-anak masa lampau. Anak-anak tampak sekali menikmati permainan tradisional itu dalam pertemuan fisik disertai tawa bahagia dan saling tegur sapa.
Urgensi Pembelajaran Mendalam
Tatkala awal menjabat menteri dikdasmen, Abdul Mu’ti menggulirkan kebijakan pembelajaran mendalam (deep learning) sebagai salah satu program prioritas. Mendikdasmen menegaskan bahwa pembelajaran mendalam bukan kurikulum baru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: