Politik Bolu Ketan dan Katarsis Gen Z

Politik Bolu Ketan dan Katarsis Gen Z

ILUSTRASI Politik Bolu Ketan dan Katarsis Gen Z.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Pakar psikologi menyebut proses pelepasan emosi tersebut dengan istilah katarsis secara akademis. Lewat tawa lepas, beban hidup akibat tekanan ekonomi maupun politik terasa ringan. 

Menari mengikuti irama lagu jenaka di aplikasi gawai merupakan wujud perlawanan pasif. Rakyat kecil memilih merayakan ketidakberdayaan dengan cara menyebar meme lucu ke grup. Tawa bersama tersebut menyatukan jutaan hati yang sama-sama merasa dipinggirkan oleh sistem. 

Humor bertindak sebagai obat penenang paling murah bagi warga yang lelah berharap. Publik menyadari bahwa amarah yang meledak-ledak tidak bakal mengubah harga bahan pokok. Sikap masa bodoh bercampur komedi dipilih agar kewarasan pikiran tetap terjaga utuh. 

Ruang digital beralih fungsi menjadi semacam panti rehabilitasi psikologis berskala nasional sungguhan. Kegembiraan semu di dunia maya berbalut erat dengan penderitaan nyata di darat.

Menyemai Benih Ragu Menuju Pesta Demokrasi

Tawa renyah di balik lagu bolu ketan sejatinya menyimpan sebuah pesan peringatan. Elite politik sungguh pantang memandang remeh gelombang komedi digital yang sedang berlangsung. Sikap terus meremehkan parodi rakyat sama saja dengan pelan-pelan menggali kuburan nasib.

Ada sebuah bom waktu bernama skeptisisme yang perlahan tumbuh subur di benak. Ketidakpercayaan publik mengakar makin kuat seiring berjalannya waktu menuju proyeksi dua ribu dua puluh sembilan. 

Generasi Z dengan tekun merekam semua kejanggalan negara lalu menyimpannya selamanya abadi. Tawa publik yang terjadi sesungguhnya merupakan tangisan bisu atas matinya nalar elite. 

Pertanyaannya, sadarkah para pemangku kebijakan tentang bahaya laten dari hilangnya rasa hormat? Apabila penguasa terus saja menutup mata, jangan kaget jika kelak suara tajam. Pesta demokrasi ke depan berpotensi menjadi panggung penghakiman paling dingin dari warga. 

Demokrasi pada akhirnya selalu menuntut pertanggungjawaban nyata tepat di balik bilik suara. Para pemuda pemilih tidak butuh lagi deretan baliho raksasa penawar janji kesejahteraan. Tumpukan meme jenaka sudah cukup menjadi alasan mutlak guna menghukum penguasa zalim. 

Skenario politik elite terancam berantakan hanya gara-gara sebuah tren lagu bolu ketan. Generasi baru siap menulis sejarah dengan cara yang paling tidak terduga sebelumnya. Kekuasaan yang berjarak dari realitas akar rumput niscaya segera menemui garis akhir. (*)

*) Teddy Afriansyah adalah penulis lepas dan alumnus Universitas Airlangga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: