Politik Bolu Ketan dan Katarsis Gen Z

Politik Bolu Ketan dan Katarsis Gen Z

ILUSTRASI Politik Bolu Ketan dan Katarsis Gen Z.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

RUANG sidang partai selalu identik dengan nuansa kaku. Jas kuning tampak rapi membalut tubuh para elite politik berwajah tegang. Berkas tebal bertumpuk rapi di atas meja bundar berlapis taplak beludru mahal. Ketukan palu sidang terdengar nyaring memecah keheningan ruangan berpendingin udara. 

Wajah para tokoh terlihat serius merumuskan nasib bangsa ke depan. Namun, suasana formal tersebut justru berbanding terbalik dengan pemandangan layar gawai pintar rakyat Nusantara. Sebuah lagu bernada jenaka mendadak merajai beranda aplikasi TikTok tanpa permisi. Irama riang berbalut lirik satire menyapa gendang telinga pengguna internet saban hari. 

Publik meramaikan jagat maya lewat tren politik bolu ketan yang ikonik. Judul lagu yang terdengar sepele rupanya menyimpan tamparan keras bagi para penguasa. Kontras pemandangan tersebut sungguh menggelitik akal sehat siapa saja yang melihatnya. 

Wajah tegang politikus di layar kaca justru menjadi bahan tertawaan paling renyah. Gelombang video parodi bermunculan secara masif tanpa bisa dicegah oleh siapa pun. Rakyat biasa seolah menemukan panggung alternatif guna meruntuhkan tembok kesombongan kaum elite. 

BACA JUGA:Resep Bolu Ketan Hitam Keju Lumer, Camilan Empuk yang Bikin Nagih!

BACA JUGA:Pesta Babi dan Kesadaran Politik (Mahasiswa) Gen Z

Keadaan tersebut menandai babak baru dalam sejarah komunikasi massa berbasis digital. Publik tidak butuh podium resmi guna menyampaikan kritik tajam kepada pemerintah pusat. Demokrasi sedang menemukan bentuk terbarunya lewat goyangan santai berlatar musik lucu.

Pergeseran Cara Berdemokrasi Kaum Muda

Generasi Z rupanya punya cara tersendiri dalam merespons dinamika negara sehari-hari. Kelompok muda zaman sekarang tidak lagi tertarik turun ke jalanan menyuarakan protes. Terik matahari dan ancaman semprotan gas air mata dianggap bukan lagi pilihan ideal. 

Menulis utas panjang berisi kemarahan di media sosial X juga mulai perlahan ditinggalkan. Publik muda beralih memilih jalur kesenian satire sebagai medium perlawanan utama. Meme, editan video lucu, dan lagu bernada komedi menjelma menjadi senjata baru. Pilihan taktik tersebut lahir dari sebuah kalkulasi rasional yang sangat masuk akal. 

Kritik lewat balutan komedi terbukti jauh lebih aman dari jeratan hukum pencemaran. Polisi siber sulit menangkap seseorang hanya karena mengunggah video berlatar musik lucu. Kekebalan hukum tidak terlihat tersebut membuat tren kritik visual makin subur bertumbuh. 

BACA JUGA:Pencerahan Politik

BACA JUGA:Politik Finansialisasi

Gelombang kreativitas digital tersebut sukses mengambil alih panggung perdebatan publik secara elegan. Kalangan muda menyadari bahwa melawan kekuasaan tidak harus selalu menggunakan urat leher. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: