Evolusi Cesc Fabregas: Cetak Sejarah di Como, Jadi Incaran Barcelona

Evolusi Cesc Fabregas: Cetak Sejarah di Como, Jadi Incaran Barcelona

Cesc Fabregas sukses bertransisi dari gelandang genius juara dunia menjadi pelatih muda ambisius yang kini memimpin proyek Serie A bersama Como.--Getty Images

Bahkan pada usia yang masih relatif muda, ia dipercaya mengenakan ban kapten Arsenal. Selama membela klub London Utara tersebut, Fabregas tampil lebih dari 300 kali dan menjadi ikon era Wenger meski gagal mempersembahkan gelar Premier League.

Menjadi Bagian Generasi Emas Spanyol


Fabregas menjadi pilar generasi emas Spanyol yang meraih tiga trofi internasional beruntun, termasuk pemberi assist di final Piala Dunia 2010.--AFP

Di level internasional, karier Fabregas juga berkembang pesat. Ia masuk ke dalam generasi emas Spanyol yang mendominasi sepak bola dunia pada akhir dekade 2000-an hingga awal 2010-an.

Fabregas menjadi bagian dari skuad yang menjuarai Euro 2008, Piala Dunia 2010, dan Euro 2012. Pencapaian tersebut menjadikan Spanyol sebagai negara pertama yang mampu memenangkan tiga turnamen besar secara beruntun.

Meski tidak selalu menjadi starter, kontribusinya sangat penting. Ia sering menjadi pembeda ketika pertandingan berjalan buntu. 

Salah satu momen paling dikenang adalah ketika ia memberikan assist untuk gol kemenangan Andres Iniesta pada final Piala Dunia 2010 melawan Belanda.

BACA JUGA:Como Ukir Sejarah Lolos Liga Champions, Cesc Fabregas Bangga!

BACA JUGA:Cesc Fabregas Bawa Como Cetak Sejarah Lolos Kompetisi Eropa

Kesuksesan bersama tim nasional semakin mengukuhkan status Fabregas sebagai salah satu gelandang terbaik generasinya. 

Ia dikenal bukan karena kecepatan atau kekuatan fisik, melainkan kecerdasan bermain dan kemampuan menciptakan peluang yang sulit ditiru pemain lain.

Pulang ke Barcelona dan Menambah Koleksi Trofi


Kembali ke Barcelona lalu hijrah ke Chelsea, Fabregas sukses menambah koleksi trofi bergengsi termasuk gelar La Liga dan Premier League.--FC Barcelona.com

Pada 2011, Fabregas akhirnya kembali ke Barcelona. Kepulangannya dianggap sebagai "anak yang pulang ke rumah" setelah bertahun-tahun berkembang di Inggris.

Meski harus bersaing dengan pemain-pemain seperti Xavi Hernandez, Andres Iniesta, dan Sergio Busquets, Fabregas tetap mampu menunjukkan kualitasnya. 

Ia membantu Barcelona meraih gelar La Liga, Copa del Rey, Piala Super Eropa, hingga Piala Dunia Antarklub. Walau sukses meraih trofi, banyak pihak menilai Fabregas tidak pernah benar-benar mendapatkan peran ideal di Barcelona. 

Fabregas kerap dimainkan di berbagai posisi sehingga tidak bisa menampilkan performa terbaiknya secara konsisten.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: berbagai sumber