Jejak Tegak Dwi Hary di Delta Tirta Sidoarjo

Jejak Tegak Dwi Hary di Delta Tirta Sidoarjo

Dirut Perumda Delta Tirta Sidoarjo (2021-2026) Dwi Hary Soeryadi.-Perumda Delta Tirta Sidoarjo-Perumda Delta Tirta Sidoarjo

SIDOARJO, HARIAN DISWAY - Tren angka yang bergerak naik selalu menarik untuk dicermati. Apalagi jika kenaikan itu menyangkut urusan laba perusahaan daerah. BUMD. Biasanya publik sudah maklum: BUMD lebih sering jadi beban ketimbang penyumbang pendapatan daerah.

Maka, ketika membaca laporan dari Sidoarjo pekan ini, ada hal yang bikin tersenyum. Sebuah kabar datang dari Perumda Delta Tirta Sidoarjo. Perusahaan air minum milik pemkab itu baru saja ditinggal nakhodanya: Dwi Hary Soeryadi. Masa jabatan lima tahunnya resmi berakhir tepat tanggal 14 Juni kemarin.

Mantan Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) itu purna dengan kepala tegak. Dan yang paling penting: meninggalkan warisan angka-angka yang melegakan.

Mari dibedah angkanya. Saat Dwi Hary masuk pada tahun 2021, laba Delta Tirta berada di angka Rp15 miliar. Sebuah angka yang biasa saja untuk ukuran Sidoarjo yang penduduknya padat.

Sistemnya yang dirombak. Dari manual yang njelimet beralih ke digital. Paperless. Mengubah kebiasaan kertas menjadi digital itu susahnya setengah mati. Banyak resistensi. Banyak yang "alergi". Namun, transformasi itu jalan terus.

Setahun setelah digitalisasi berjalan, meledaklah laba tersebut. Naik menjadi Rp28,5 miliar. Itu menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah Delta Tirta pada saat itu.

BACA JUGA:One Day Service Jadi Program Unggulan Delta Tirta 2024

Apakah berhenti di situ? Tidak. Tahun berikutnya naik lagi menjadi Rp43 miliar. Dan pada tahun keempat? Tembus di angka Rp46 miliar!

Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang disetor ke kas Pemkab Sidoarjo pun ikut mencetak sejarah baru: sekitar Rp18 miliar pada tahun 2025 kemarin.

Bagaimana perjalanan itu dimulai lima tahun lalu?  Saat mendaftar pada tahun 2021, proses seleksi berjalan profesional dan objektif. Tidak ada titipan, juga tidak ada kewajiban menyetor uang sepeser pun. 

Ini poin sangat penting. Jika proses masuknya saja harus membayar, pasti ada sistem yang rusak. Jika masuknya jalur "titipan", sang direktur utama akan sibuk "mengembalikan modal" atau melayani kepentingan sang penitip. Perusahaan daerah taruhannya: pasti hancur.

Karena Dwi Hary masuk lewat jalur yang bersih, ia hanya mengantongi satu pesan dari bupati saat itu: Benahi Delta Tirta. Jadikan profesional.

Pesan itu dibayar lunas. Urusan keuangan menjadi sehat. Urusan bocornya air pun disikat. Publik perlu tahu berapa tingkat kehilangan air (TKA) di Sidoarjo dulu: mencapai 41 persen! Bayangkan, hampir separuh air bersih menguap atau hilang di jalan sebelum sempat sampai ke bak mandi pelanggan.

Direksi kemudian memasukkan teknologi (Supervisory Control and Data Acquisition) SCADA. Hasilnya dahsyat. Di wilayah yang menjadi lokasi penerapan program, kebocoran berhasil ditekan hingga di bawah 1 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: