Ekonomi Dunia dan Peta Geopolitik Pascaperang AS vs Iran
ILUSTRASI Ekonomi Dunia dan Peta Geopolitik Pascaperang AS vs Iran.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
BAGAIMANA peta geopolitik global, khususnya di wilayah Timur Tengah, setelah perjanjian damai antara Amerika Serikat dan Iran? Apakah akan terbentuk tata dunia baru yang lebih menjamin perdamaian global? Akankah Israel menjadi batu sandungan perdamaian saat ini dan di masa mendatang?
Reaksi Positif Pasar
Kita melihat reaksi pasar sangat positif dengan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran. Meski baru ditandatangani pada Jumat (19 Juni 2026) pekan ini, investor dan pelaku pasar keuangan global menyambut baik usainya perang yang berlangsung sejak 28 Februari 2026 tersebut.
Dibukanya blokade di Selat Hormuz, sebagai salah satu poin kesepakatan damai, memberikan dampak langsung terhadap harga minyak. Harga minyak mentah Brent turun hingga menyentuh level USD79 per barel dari posisi tertinggi selama masa konflik, yaitu USD113 per barel pada 6 April 2026.
Harga minyak mentah dan gas alam menjadi perhatian utama untuk mengukur dampak perang AS dengan Iran terhadap perekonomian global.
BACA JUGA:Gencatan Senjata dan Krisis Ekonomi Global yang Masih Mengancam
BACA JUGA:Role Model Pengembangan Ekonomi Syariah
Kenaikan harga minyak mentah dan gas yang sangat tinggi memberikan dampak berganda (multiplier effect) terhadap berbagai sektor ekonomi. Penutupan Selat Hormuz mengganggu lalu lintas ekspor minyak mentah dan gas.
Akibat tersendatnya suplai minyak mentah dan gas alam dari negara-negara pengekspor di Timur Tengah, dunia menghadapi ancaman krisis energi dan pangan. Wilayah Timur Tengah memasok sekitar 20 persen dari total suplai minyak mentah dan gas alam dunia. Lonjakan harga minyak mentah dan gas dikhawatirkan terjadi lebih lama jika perang tidak segera dihentikan.
Meski jauh dari wilayah konflik, Indonesia juga merasakan dampak ekonomi dari perang AS vs Iran. Harga bahan bakar minyak (BBM) melonjak tajam, khususnya jenis solar nonsubsidi (Dex dan Dexlite), pun harga bensin nonsubsidi (Pertamax).
Kenaikan harga minyak diperparah dengan anomali yang terjadi di pasar uang, yakni nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS hingga sempat menyentuh Rp18.200 per USD.
BACA JUGA:Amerika Serikat Alami Inflasi Tertinggi, Ekonomi Global Terancam
BACA JUGA:Ekonomi Syariah sebagai Sumber Pemulihan
Selain itu, perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) diwarnai aksi jual investor asing. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun terkoreksi cukup dalam hingga menyentuh titik terendah 5.324 pada 9 Juni 2026. Sepanjang tahun ini, IHSG telah terkoreksi hingga 28 persen.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: