Dilema Harga BBM 2026: Menjaga Daya Beli atau Mengikuti Pasar Global

Dilema Harga BBM 2026: Menjaga Daya Beli atau Mengikuti Pasar Global

ILUSTRASI Dilema Harga BBM 2026: Menjaga Daya Beli atau Mengikuti Pasar Global.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

PEMERINTAH baru saja menegaskan komitmennya untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi seperti Pertalite dan solar hingga akhir tahun 2026. Langkah tersebut menjadi penolong yang sangat dinantikan bagi dompet masyarakat luas yang belakangan ini terus terkikis. 

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa stok BBM berada dalam kondisi yang aman untuk memastikan daya beli masyarakat tetap berjalan dan tidak ambruk di tengah kenaikan ekonomi global yang serba-tidak pasti.

Namun, jika kita bersedia menepikan sejenak laporan-laporan optimis di atas kertas meja birokrat dan mulai turun ke jalanan, realitas yang tersaji justru berbicara sebaliknya. Pernyataan aman dari pemerintah seolah berbanding terbalik dengan kondisi riil yang mencekik masyarakat hari ini. 

Menahan harga bensin bersubsidi ternyata tidak otomatis menyelesaikan masalah. Sebab, di sudut lain SPBU, kenaikan harga BBM nonsubsidi justru melonjak drastis tanpa ampun.

BACA JUGA:Ekonom Universitas Ciputra Dorong Pemerintah Segera Turunkan Harga BBM Nonsubsidi

BACA JUGA:Alasan Pertamina Naikkan Harga Pertamax Mulai 10 Juni 2026, Beriktu Daftar Harga BBM Terbaru!

Ironisnya, lonjakan harga itu terjadi di tengah kondisi upah minimum (UMR/UMK) yang stagnan dan sama sekali tidak sebanding dengan kenaikan harga komponen energi tersebut. 

Bagi jutaan buruh pabrik dan pekerja kantoran, hantaman itu menjadi hal yang sangat mencekik, memicu ketimpangan baru yang kian memperlebar jarak antara pendapatan nyata dan biaya hidup yang harus dikeluarkan setiap bulan.

Efek Domino yang Menggerogoti Struktur Pasar

Suatu hal yang seringkali luput dari kalkulasi pembuat kebijakan adalah pemahaman bahwa BBM bukan hanya sekedar ”alat” atau komoditas cair pengisi tangki kendaraan. Energi adalah urat nadi perekonomian. Ketika harga BBM nonsubsidi naik, semua harga ikut naik, dari biaya logistik, tarif transportasi online, hingga bahan pokok di pasar menjadi naik. 

Ketika bahan bakar untuk kendaraan komersial dan logistik mahal, biaya distribusi logistik bahan pangan otomatis akan terkerek naik. Tidak butuh waktu lama bagi para penyedia jasa layanan transportasi online untuk ikut melakukan penyesuaian tarif demi menutup pembengkakan biaya operasional para mitranya. 

Dampak paling kasatmata tentu saja akan bermuara di pasar-pasar tradisional. Harga bahan pokok, mulai beras, minyak goreng, telur, hingga sayur-mayur, perlahan tapi pasti ikut merangkak naik.

Bagi buruh dengan gaji pas-pasan, inflasi terselubung itu adalah monster yang menakutkan. Pengeluaran harian mereka untuk makan siang di warteg atau ongkos berangkat kerja mendadak membengkak, sedangkan angka yang tertera pada slip gaji bulanan mereka tetap membeku tanpa ada tanda-tanda perubahan.

Realitas di Aspal Jalanan: Potret Kelas Menengah yang Terpaksa ”Turun Kelas”

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: