Perang karena Perang: Analisis Paradoks Kemenangan Israel

Perang karena Perang: Analisis Paradoks Kemenangan Israel

ILUSTRASI Perang karena Perang: Analisis Paradoks Kemenangan Israel.-Arya/AI-Harian Disway-

SAYA suka menganalisis kemampuan tempur. Sebab, perang itu catur. Anda lihat papan. Anda hitung langkah. Anda prediksi lima gerakan ke depan.

Israel adalah grandmaster.

Iron Dome, Iron Beam, laser yang menembak empat detik, rudal balistik digagalkan di angkasa. Biaya tembakan turun drastis. Efisiensi melonjak. Para jenderal di ruang kendali tersenyum puas. Teknologi nomor satu di kawasan. Mungkin di dunia.

Tapi, coba tanyakan kepada perwira intelijen yang duduk di pojok ruangan. ”Apa tujuan akhir mereka?”

Hening. Terdengar detak jam dinding.

Sebab, kemarin tepat 1.000 hari sejak 7 Oktober 2023. Gencatan senjata 10 Oktober 2025 sudah berumur sembilan bulan. Namun, sejak gencatan itu, 1.053 warga Palestina tewas, 3.400 luka-luka. Gaza kini 50 persen dikuasai. Targetnya 70 persen. Di Lebanon, 4.300 orang mati sejak Maret. Di Suriah, gerbang perbatasan baru berdiri.

BACA JUGA:Ekonomi Dunia dan Peta Geopolitik Pascaperang AS vs Iran

BACA JUGA:AI sebagai Daya Perang

Israel menang di setiap bentrokan. Konfrontasi tak usai.

Itu seperti membangun benteng setinggi langit, dengan dinding dari baja dan sinar, tetapi lupa membuat pintu keluar. Anda aman di dalam. Anda terperangkap selamanya.

Ukuran Kekuatan

Saya amati cara mereka mengerahkan pasukan. Divisi lapis baja, brigade infanteri, unit elite. Presisi Swiss. Operasi gabungan mulus. Pasukan khusus tembus garis belakang. Indah. Memukau. Seperti tarian yang sudah dilatih ribuan jam.

Tapi, perhatikan lebih dalam. Setiap serangan selalu diikuti satu pertanyaan. ”Lalu apa?”

Menteri Pertahanan Katz berkata tegas. Pasukan akan tetap di Lebanon, Suriah, dan Gaza ”sampai ada pemberitahuan lebih lanjut”. Kalimat yang dalam bahasa diplomatik berarti, ”kami sendiri tidak tahu kapan berhenti.”

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: