Budaya Healing dan Performa Digital
ILUSTRASI Budaya Healing dan Performa Digital.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Libur t’lah tiba
libur t’lah tiba
hore, hore, hore
SEPENGGAL bait dalam syair lagu anak-anak karangan A.T. Mahmud itu tak ayal membawa kita kembali ke kenangan masa kecil. Begitu tahun ajaran berakhir, liburan menjadi hadiah yang paling dinanti.
Tidak harus pergi jauh. Bermain bersama teman, mengunjungi rumah kakek-nenek di desa, atau sekadar menikmati pagi tanpa diburu bel sekolah sudah cukup menghadirkan rasa bahagia. Liburan menyisakan banyak kenangan, tanpa perlu dibuktikan atau dipertontonkan kepada siapa pun.
Musim liburan sekolah kali ini kembali menghadirkan kegembiraan yang sama. Bandara dan stasiun dipenuhi penumpang, jalan menuju kawasan wisata macet, hotel dan tempat rekreasi penuh sesak. Namun, ada satu pemandangan yang tampaknya makin lazim.
Sebelum menikmati keindahan pantai, menyeruput secangkir kopi di sudut kafe yang estetik, atau menyaksikan matahari terbenam di pegunungan, banyak orang terlebih dahulu mengeluarkan telepon genggamnya. Kamera menyala. Video direkam. Angle terbaik dicari. Musik latar dipilih. Takarir mulai disusun. Liburan pun kemudian berubah menjadi ajang kreasi konten.
BACA JUGA:Puluhan Dosen FISIP Unair Healing ke Luar Negeri, Merevitalisasi Batin dan Semangat Kerja
Fenomena itu sering dianggap sebagai budaya pamer alias flexing. Namun, benarkah demikian?
Sesungguhnya, tren ”healing” muncul bukan tanpa alasan. Banyak orang, terutama yang tinggal di perkotaan, hidup dalam ritme yang serbacepat dengan jadwal yang padat. Dunia kerja menuntut produktivitas tanpa henti.
Belum lagi arus informasi yang terus mengalir tanpa jeda melalui layar yang hampir tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Bahkan, ketika tubuh beristirahat, pikiran tetap bekerja mengikuti notifikasi yang tak kunjung berhenti.
Dalam situasi seperti itu, kebutuhan untuk berhenti sejenak menjadi sangat nyata. Healing, dalam pengertian ini, bukan sekadar istilah populer, melainkan upaya memberikan ruang bagi diri sendiri untuk bernapas.
Kesadaran generasi muda terhadap kesehatan mental juga patut diapresiasi. Mereka lebih terbuka mengakui rasa lelah, cemas, atau burnout daripada generasi sebelumnya yang cenderung menganggap semua itu sebagai kelemahan yang harus disembunyikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: