Ekonomali
ILUSTRASI Ekonomali.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Itu titik terlemah dalam beberapa dekade. Bank Indonesia memang telah intervensi pasar valas. Juga, menaikkan hingga BI rate sampai 5,75 persen untuk stabilisasi. Namun, biaya investasi menjadi lebih mahal (Reuters).
Tekanan terlihat di sektor eksternal. Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan Mei 2026 mengalami defisit sekitar USD1,61 miliar. Itu defisit bulanan pertama setelah Indonesia menikmati surplus perdagangan selama enam tahun berturut-turut.
BACA JUGA:Ekonomi Mudik
BACA JUGA:Agunan Produk Ekonomi Kreatif
Pelemahan ekspor komoditas berjalan seiring dengan lonjakan impor. Terutama energi dan bahan baku. Itu menjadi sinyal bahwa mesin ekonomi mulai kehilangan tenaga. Meminjam istilah otomotif, mesinnya mulai brebet.
Di sektor riil, pelemahan itu bisa dilihat dari purchasing managers’ index (PMI) manufaktur. Pada Juni 2026, PMI Indonesia turun ke 46,9. Jauh di bawah angka 50 yang menjadi batas antara ekspansi dan kontraksi.
Itu bukti aktivitas manufaktur menyusut. Ketika pabrik mengurangi pesanan, produksi, dan jam kerja, dampaknya bisa bikin kepala migrain. Penyerapan tenaga kerja akan melambat dan daya beli masyarakat melemah (Indonesia Investment).
Tekanan harga juga mulai meningkat. Inflasi tahunan Juni 2026 mencapai 3,34 persen, mendekati batas atas sasaran Bank Indonesia. Kenaikan biaya transportasi, pangan, serta dampak pelemahan rupiah terhadap barang impor ikut mendorong inflasi.
BACA JUGA:Penggerak Ekonomi Syariah
BACA JUGA:Hantu Demokrasi atau Pemulihan Ekonomi
Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 hanya 5 persen. Lebih rendah daripada target pemerintah. Itu pun masih sangat bergantung pada belanja pemerintah. Investasi swasta dan sentimen investor masih saling menunggu (Reuters).
Dus, gambar ekonomi kita jelas. Rupiah tertekan, suku bunga naik, industri manufaktur berkontraksi, neraca perdagangan defisit, dan dunia usaha menahan ekspansi.
Sementara itu, dalam waktu yang sama, stasiun kereta tetap penuh, bandara ramai, mal padat, dan coffee shop tak sepi. Seolah semua itu tak pernah kehilangan pelanggan.
Itulah yang saya sebut sebagai ekonomali.
BACA JUGA:Komite Daerah Ekonomi Syariah
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: