Ekonomali

Ekonomali

ILUSTRASI Ekonomali.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

MESTINYA saya ke Blitar. Tapi, harus ditunda karena ada agenda di Jogja yang mendesak. Dari Jogja terus ke Jakarta, Palembang, dan Lampung. Akhir pekan sudah harus berada di Bandung.

Tapi, tiket ke Jogja ternyata ludes. Dari dan ke Jogja di akhir pekan kemarin. Padahal, ini baru hari Jumat. Semua kereta eksekutif habis. Bahkan Sancaka Surabaya–Jogja. Tinggal ada beberapa biji kelas ekonomi.

Akhirnya dapat kereta jarak jauh. Itu pun terpaksa mengorbankan salat Jumat. Sebab, memang tinggal kereta pagi jurusan Jakarta dan Bandung yang masih tersisa. Hampir tak ada kursi kosong di setiap gerbong. 

Benar saja. Setiba di stasiun Tugu, Jogja, penuh sesak dengan penumpang. Baik yang datang dari arah barat maupun dari timur. Seperti musim Lebaran tiba. Saat orang-orag kota mudik ke daerah.

BACA JUGA:Ekonomi Dunia dan Peta Geopolitik Pascaperang AS vs Iran

BACA JUGA:Gencatan Senjata dan Krisis Ekonomi Global yang Masih Mengancam

Untuk ke Jakarta, Sabtu dan Minggu juga sudah tak tersedia kursi. Padahal, saya suka naik gerbong luxury perjalanan Jogja–Jakarta. Berangkat malam sampai ibu kota pagi. Bisa tidur nyenyak di perjalanan.

Terpaksa naik pesawat. Ada dua penerbangan dari Adi Sutjipto ke Halim Perdanakusuma. Keduanya pakai pesawat ATR. Baling-baling. Hanya karena telat issued, tiket pagi sudah tak ada. Tinggal maskapai Fly Jaya agak siang

Fenomena padatnya angkutan publik itu menarik. Katanya, ekonomi kita sedang tidak baik-baik saja, tapi kenapa stasiun dan bandara masih tetap ramai? Demikian juga mal dan restoran-kafe.

Apakah itu gejala ekonomi yang anomali? Saya menyebutnya gejala  ekonomali. Yakni, keadaan ketika indikator-indikator ekonomi menunjukkan pelemahan di satu sisi. Tapi, di sisi lain, aktivitas konsumsi tertentu tetap semarak. 

BACA JUGA:Role Model Pengembangan Ekonomi Syariah

BACA JUGA:Fokus Literasi Ekonomi dan Keuangan Syariah

Permukaan ekonomi tampak normal, bahkan ramai. Namun, di bawah permukaan, fondasinya mulai retak. Ada cermin retak yang membuat wajah asli kita tidak seperti yang sebenarnya. Permukaan tidak sama dengan kenyataan di dalamnya.

Sampean tahu, beberapa indikator makro ekonomi kita memperlihatkan gejala yang tidak bisa diabaikan. Nilai tukar rupiah sepanjang semester pertama 2026 menembus kisaran Rp17.900–Rp18.000 per dolar AS. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: