Pembunuhan Bidan RSUD Besuki, Situbondo, Direkonstruksi: Cemburu Tanpa Bukti

Pembunuhan Bidan RSUD Besuki, Situbondo, Direkonstruksi: Cemburu Tanpa Bukti

ILUSTRASI Pembunuhan Bidan RSUD Besuki, Situbondo, Direkonstruksi: Cemburu Tanpa Bukti.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Ketika seseorang mengalami kecurigaan terhadap pasangan, terjadi proses kognitif berupa appraisal (penilaian): apakah situasi itu ancaman nyata atau belum pasti? 

Jika seseorang mampu menunda penilaian impulsif dan mencari bukti, respons emosional bisa ditekan. 

Sebaliknya, individu yang berpola pikir kaku, impulsif, atau punya riwayat kekerasan, cenderung langsung menafsirkan kecurigaan sebagai pengkhianatan pasti. Akhirnya memicu agresi.

Konsep cycle of violence (siklus kekerasan) terdiri atas fase: ketegangan, ledakan, dan rekonsiliasi. 

Pada kecurigaan perselingkuhan, fase ketegangan bisa berlangsung lama. Misalnya, suami merasa curiga, cemburu, dan terancam harga dirinya. 

Fase itu masih bisa diputus sebelum mencapai ledakan jika individu punya keterampilan koping memadai.

Faktor penting orang menahan diri, antara lain:

Keterampilan regulasi emosi. Individu yang mampu mengenali emosi. Contoh, ”saya sedang marah dan cemburu”, lebih mudah mengendalikan reaksi jika dibandingkan dengan yang langsung bertindak tanpa refleksi.

Kontrol impuls. Kemampuan menunda tindakan agresif beberapa menit saja cukup untuk menurunkan intensitas emosi.

Norma dan nilai internal. Keyakinan bahwa kekerasan terhadap pasangan adalah salah, secara moral maupun hukum, bakal berfungsi sebagai rem psikologis yang kuat.

Konsekuensi sosial dan hukum. Kesadaran akan risiko kehilangan keluarga, reputasi, atau kebebasan (dipenjara) turut menahan perilaku agresif.

Alternatif koping. Misalnya, berbicara dengan pasangan secara asertif, mencari klarifikasi, atau mengambil jarak dengan pasangan untuk sementara.

Memang, kecemburuan pria terkait dengan ancaman terhadap identitas diri dan harga diri bukan sekadar hubungan itu sendiri. 

Karena itu, intervensi yang efektif tidak hanya menenangkan emosi, tetapi juga memperkuat rasa aman internal individu.

Kesimpulannya, kekerasan bukan reaksi yang tak terhindarkan. Bahkan, dalam kondisi emosi sangat tinggi, manusia tetap memiliki kapasitas memilih respons.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: