Pembunuhan Bidan RSUD Besuki, Situbondo, Direkonstruksi: Cemburu Tanpa Bukti
ILUSTRASI Pembunuhan Bidan RSUD Besuki, Situbondo, Direkonstruksi: Cemburu Tanpa Bukti.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Selanjutnya, Rizky menyeret tubuh korban ke pinggir jalan. Menuju selokan besar. Tubuh korban dibuang ke selokan. Pas. Muat sebadan manusia. Lalu, Rizky mengambil dedaunan kering di sekitarnya untuk menutupi mayat istrinya. Ia pun kabur.
Atik: ”Tersangka kemudian pulang, mengambil kedua anaknya yang dititipkan ke rumah adiknya. Ia juga memecah celengan (tabungan berbentuk keramik, Red), isinya sekitar Rp1 juta. Diambil buat melarikan diri.”
Rizky kabur dari Situbondo ke Surabaya. Sekitar 210 kilometer. Ia berniat kabur ke rumah ortunya di Madura.
Setiba di Surabaya, sebelum menuju ke sana, ia menelepon pamannya di Madura. Semua kejadian ia ceritakan. Pasti, si paman kaget. Lalu, paman menyarankan Rizky menyerahkan diri ke Polda Jatim. Jangan kabur. Sebab, jika diburu polisi, Rizky bisa ditembak, kata si paman.
Maka, Rizky minta bantuan pamannya yang lain, yang tinggal di Surabaya, untuk mengantarkannya menyerahkan diri ke Mapolda Jatim di Jalan A. Yani, Surabaya.
Rizky pun menyerahkan diri.
Polisi memeriksanya, memintai keterangan secara detail. Termasuk soal lokasi pembuangan mayat korban. Rizky memberitahukannya.
Malam itu juga Rizky dibawa polisi menuju Situbondo, untuk menunjukkan lokasi jenazah korban. Ketemulah jenazah Rafika. Masih di dalam selokan, tertutupi dedaunan. Hanya pelaku yang tahu titik pembuangan mayat itu. Polisi yakin, Rizky memang pembunuhnya.
Ia dijerat Pasal 458 KUHP, pembunuhan. Ancaman maksimal hukuman 15 tahun penjara.
Cuma sesederhana itu kronologi pembunuhan Rafika. Motifnya sesepele itu. Dugaan perselingkuhan tanpa bukti. Cemburu yang buta. Dan, model begitu sangat sering terjadi di masyarakat. Sepanjang kehidupan suami istri pasti pernah diwarnai cemburu.
Periset kriminal perempuan Amerika Serikat (AS) Dawn Bradley Berry dalam bukunyi, The Domestic Violence Sourcebook (2000), mengulas hasil riset tentang hal itu.
Berry adalah periset dan pengacara asal California, AS, yang aktif menulis buku tentang kejahatan pada pasangan pria-wanita.
Dia menguraikan bahwa kekerasan dalam hubungan intim, termasuk yang dipicu kecemburuan, tidak berdiri sendiri sebagai reaksi spontan semata, tetapi hasil interaksi kompleks antara emosi, kognisi, dan konteks sosial.
Bahwa emosi intens seperti marah dan cemburu bukan penyebab langsung kekerasan. Itu cuma bahan bakar yang bisa diarahkan pelaku ke berbagai respons, baik yang destruktif maupun konstruktif.
Setiap individu punya kapasitas untuk pengaturan diri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: