Kisah Laba-Laba Selat Hormuz

Kisah Laba-Laba Selat Hormuz

ILUSTRASI Kisah Laba-Laba Selat Hormuz.-Arya/AI-Harian Disway-

PERNAH melihat laba-laba menunggu di tengah jaring? Diam. Sabar. Tidak bergerak. Tapi, setiap getaran di ujung jaring ia rasakan. Selat Hormuz adalah ibarat jaring itu. 

Rudal yang meledak hanyalah getaran di permukaan. Di baliknya, ada laba-laba yang sesungguhnya. Mereka tidak terlihat. Mereka diam. Mereka menarik benang yang kita tidak tahu ujungnya.

Jaring mereka bukan dari sutra. Tapi, dari serat optik, sinyal, dan cip. Mereka tidak lapar serangga atau daging. Mereka lapar data, minyak, dan kekuasaan. Dan kita, korban, baru sadar setelah dompet kita terkuras.

Teheran, sang Laba-Laba Celah

Di alam liar Iran, hiduplah seekor makhluk kecil bernama Filistata maguirei. Laba-laba celah endemik. Namanya diambil dari Tobey Maguire, aktor Spider-Man.

BACA JUGA:Laba-Laba Hitam dan Teratai Jaga Tanah Papua

BACA JUGA:Gema di Selat Hormuz, Getaran di Nusantara: Menakar Dampak Eksistensial Agresi terhadap Iran bagi Indonesia

Tapi, jangan salah. Ia bukan pahlawan super. Ia adalah makhluk yang benci cahaya matahari. Ia benci ruang terbuka. Ia membangun sarang di kedalaman retakan batu. Di balik dinding gelap yang tak pernah tersentuh sinar.

Ia tidak berburu secara frontal. Ia hanya menunggu. Saat mangsa menyentuh benang pemicunya, ia melesat keluar. Menggigit dengan kilat. Lalu, menarik diri kembali ke dalam kegelapan. Sebelum mangsanya sadar apa yang menimpanya.

Begitulah Iran bermanuver di panggung geopolitik.

Secara strategis, berhadapan langsung secara konvensional dengan mesin perang Amerika Serikat (AS) di ruang terbuka adalah bunuh diri. Jika celah itu hancur, rezim di dalam negeri yang sudah dicekik sanksi dan inflasi akan ikut runtuh.

BACA JUGA:Menjaga Nadi Digital di Selat Hormuz: Mengantisipasi 'Kiamat' Internet Global

BACA JUGA:Selat Hormuz, Celah Sempit yang Menentukan Geopolitik Rantai Pasok Energi Dunia

Maka, Iran mengadopsi anatomi laba-laba celah. Ia menyerang dari balik dinding. Lalu, kembali bersembunyi. Cukup untuk membuat musuh goyah. Tapi, tidak cukup untuk memicu perang total.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: