Kontrang-kantring di Era Digital: Siapa Yang Menuntun Generasi Muda?
ILUSTRASI Kontrang-kantring di Era Digital: Siapa Yang Menuntun Generasi Muda?.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Namun, kemampuan digital tidak selalu berbanding lurus dengan kematangan sosial. Teknologi dapat memberikan informasi dalam hitungan detik, tetapi pengalaman hidup tidak dapat diperoleh secara instan.
Mesin pencari dapat memberikan banyak jawaban, tetapi tidak selalu mengajarkan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.
Pada tsituasi itu, generasi muda membutuhkan perjumpaan dengan pengalaman. Mereka membutuhkan ruang untuk berdialog dengan generasi sebelumnya, belajar dari perjalanan orang lain, memahami keberagaman perspektif, dan mengalami proses sosial secara langsung.
Konsep serawung (interaksi sosial) yang disampaikan Gilang menjadi sangat relevan. Serawung bukan hanya aktivitas berkumpul, melainkan juga proses membangun hubungan, berbagi pengalaman, dan menciptakan kesalingpahaman.
Jika teknologi memperluas koneksi, serawung memperdalam hubungan. Tantangan masyarakat hari ini adalah bagaimana menghadirkan kembali semangat serawung dalam bentuk yang sesuai dengan zaman digital.
Negara Tidak Cukup Mengatur, Negara Harus Menjadi Penghubung
Dalam menghadapi perubahan generasi, negara memiliki peran penting. Namun, peran negara tidak cukup hanya melalui regulasi, program, atau kebijakan yang bersifat satu arah.
Generasi muda tidak hanya membutuhkan instruksi. Mereka membutuhkan ruang partisipasi. Sering kali program kepemudaan dibuat dengan asumsi bahwa generasi muda adalah kelompok yang harus diberi solusi.
Padahal, banyak persoalan yang mereka hadapi justru dapat dijawab melalui keterlibatan mereka sendiri.
Negara perlu mengubah pendekatan: dari membuat program untuk anak muda menjadi membangun program bersama anak muda.
Partisipasi tidak sekadar mengundang generasi muda hadir dalam sebuah kegiatan. Partisipasi berarti memberikan ruang bagi mereka untuk ikut menentukan gagasan, merancang solusi, dan mengambil peran kepemimpinan.
Dalam konteks komunikasi publik, negara juga perlu memperbaiki cara berkomunikasi dengan generasi digital. Generasi muda hidup dalam budaya komunikasi yang cepat, interaktif, dan dialogis. Mereka tidak hanya ingin menerima informasi, tetapi juga ingin terlibat dalam percakapan.
Karena itu, lembaga publik harus membangun komunikasi yang lebih terbuka, mudah dipahami, dan sesuai dengan karakter masyarakat digital. Informasi yang tidak dikomunikasikan dengan baik akan kehilangan makna meskipun secara administratif sudah tersedia.
Kampus dan Organisasi Kepemudaan Harus Menjadi Ruang Pembentukan Pengalaman
Selain negara, kampus dan lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam membantu generasi muda menemukan arah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: