Belajar Ketahanan Pangan dari Perth City Farm

Belajar Ketahanan Pangan dari Perth City Farm

PENULIS (dua dari kanan) berada di gerai yang menjual madu di Perth City Farm. -Yuni Sari Amalia untuk Harian Disway-

SABTU PAGI di Perth terasa berbeda ketika kami mengunjungi Perth City Farm. Di tengah kawasan perkotaan yang modern, terdapat sebuah ruang hijau yang menjadi tempat bertemunya petani, pelaku usaha, keluarga, dan masyarakat sekitar. Sejak pagi, para penjual mulai menata produk mereka di atas meja. Ada madu, jamur, apel, sayuran, buah-buahan, roti, telur, hingga berbagai produk olahan rumahan.

Suasana yang kami lihat tidak seperti pasar besar pada umumnya. Perth City Farm terasa lebih dekat, hangat, dan bersahabat. Para pembeli tidak sekadar datang, memilih barang, kemudian pulang. 

Mereka berbincang dengan penjual, bertanya tentang asal produk, cara pengolahan, hingga pengalaman menjalankan usaha. Tidak sedikit pula warga yang datang bersama anak-anak atau sekadar menikmati suasana akhir pekan.

Bagi kami, mahasiswa Universitas Airlangga yang mengikuti kegiatan KKN internasional di Australia, kunjungan tersebut memberikan pengalaman yang menarik. Kami tidak hanya melihat aktivitas jual beli, tetapi juga belajar bagaimana sebuah komunitas dapat membangun sistem pangan lokal yang sehat, mandiri, dan berkelanjutan.

BACA JUGA:Rumput Laut, 'Superfood' untuk Ketahanan Pangan Bangsa Maritim

BACA JUGA:Dari Lahan Kosong ke Ruang Sosial: Urban Farming sebagai Strategi Ketahanan Pangan

Sebagian besar produk yang dijual merupakan produk lokal dan dihasilkan melalui proses yang memperhatikan lingkungan. Banyak produk ditanam atau diolah secara organik. Hal itu terlihat dari cara para penjual menjelaskan produk mereka. Mereka tidak hanya membicarakan rasa atau harga, tetapi juga menjelaskan bagaimana tanaman dirawat, bahan dipilih, dan produk diolah.

Salah satu hal yang menarik perhatian kami adalah keberagaman latar belakang para pelaku usaha. Ada penjual yang baru memulai usahanya dalam beberapa tahun terakhir. Mereka hadir dengan kemasan yang kreatif, ide produk baru, dan semangat untuk mengenalkan usaha kepada masyarakat.

Namun, ada pula pelaku usaha yang telah menjalankan kegiatan tersebut selama puluhan tahun. Beberapa usaha bahkan diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pengetahuan mengenai pertanian, pemilihan bahan, pembuatan produk, hingga cara menjaga kepercayaan pelanggan menjadi bagian dari warisan keluarga.

Kami menyadari bahwa di balik sebotol madu, sebungkus jamur, sekeranjang apel, atau sepotong roti, terdapat perjalanan yang panjang. Ada kerja keras, pengalaman, ketekunan, dan nilai keluarga yang terus dipertahankan. Sebuah usaha dapat bertahan bukan hanya karena produknya laku, melainkan juga karena pelakunya mampu menjaga kualitas serta membangun hubungan baik dengan konsumen.

BACA JUGA:Ketersediaan dan Ketahanan Pangan Nasional: Peluang dan Strategi

BACA JUGA:Korporasi Petani, Kekuatan Ketahanan Pangan

Pertemuan antara usaha lama dan usaha baru juga menciptakan suasana belajar yang menarik. Pelaku usaha yang lebih berpengalaman memiliki pengetahuan yang telah terbentuk selama bertahun-tahun. Sementara itu, pelaku usaha baru membawa semangat inovasi, penggunaan media sosial, desain kemasan, dan cara pemasaran yang lebih modern.

Dari sini, kami belajar bahwa tradisi dan inovasi sebenarnya dapat berjalan berdampingan. Pengetahuan yang diwariskan oleh generasi terdahulu tidak harus ditinggalkan. Pengetahuan tersebut justru dapat dikembangkan dengan teknologi dan pendekatan baru agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: