SEGTA 2026 Usung 12 Program Pengabdian Masyarakat Berbasis Energi Hijau ke Gili Iyang

SEGTA 2026 Usung 12 Program Pengabdian Masyarakat Berbasis Energi Hijau ke Gili Iyang

Rektor Unair dan akademisi FTMM berfoto bersama setelah prosesi pemasangan rompi. -Rachma Alifia-Harian Disway

Pemilihan Gili Iyang sebagai lokasi pengabdian mempertimbangkan potensinya kawasannya. Anda sudah tahu, kadar oksigen di kawasan itu merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

SEGTA 2026 terintegrasi dengan Airlangga Community Development Hub dalam upaya mencapai serangkaian poin Sustainable Development Goals (SDGs).

Program tersebut juga menghasilkan output berupa publikasi ilmiah dan kerja sama internasional dengan perguruan tinggi mitra. Sesuai harapan kampus, SEGTA 2026 harus bisa menjadi program berkelanjutan.

BACA JUGA:Viral Dosen Unair Adukan Gaji Rp2,6 Juta di Sidang MK, Sudah Mengajar Belasan Tahun dan Bergelar Doktor

BACA JUGA:Virtual Project Exhibition Unair: Kolaborasi Teknologi dan Bahasa, Selipkan Reading Comprehension dalam Gim

Sebagai rektor, Madyan menyambut baik SEGTA 2026. Ia menyebutnya sebagai bentuk komitmen untuk mengabdi kepada masyarakat. Selain SEGTA 2026, Unair memiliki berbagai program internasional lainnya, termasuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional.

"KKN Internasional itu sudah kita laksanakan di beberapa negara, seperti Malaysia, Australia, Taiwan, China, Thailand, Jepang, Korea, hingga Belanda. Intinya Universitas Airlangga ingin berdampak kepada masyarakat, baik secara nasional maupun internasional," paparnya.

Melalui SEGTA 2026, FTMM UNAIR berharap kolaborasi bersama mahasiswa dan perguruan tinggi dari berbagai negara dapat terus berkembang.

Program itu juga diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat di Gili Iyang, tetapi juga dapat memperkuat penerapan energi berkelanjutan dan teknologi hijau. (*)

*) Mahasiswa Magang Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unesa

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: