Ketika Inefisiensi Menjadi Musuh Terbesar Produk RI

Ketika Inefisiensi Menjadi Musuh Terbesar Produk RI

ILUSTRASI Ketika Inefisiensi Menjadi Musuh Terbesar Produk RI.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Merger antara dua raksasa pelayaran (COSCO dan China Shipping) dilakukan dalam konteks overcapacity industri pelayaran global dan tekanan penurunan tarif freight di tengah ketatnya persaingan bisnis shipping. 

Pemerintah Tiongkok tidak hanya menggabungkan entitas, tetapi juga merestrukturisasi portofolio bisnis dan memperluas jaringan global melalui akuisisi pelabuhan strategis dalam jaringan rantai pasok. Hasilnya adalah terciptanya salah satu raksasa pelayaran dunia dengan armada lebih dari 400 kapal dengan penetrasi global yang signifikan. 

Itu menunjukkan bahwa merger yang didorong oleh tekanan eksternal (krisis industri) cenderung lebih disiplin dalam eksekusi dibandingkan dengan merger yang bersifat administratif.

Di Eropa, pendekatan yang lebih gradual terlihat pada restrukturisasi Deutsche Bahn, khususnya integrasi unit logistik dan transportasi seperti DB Cargo dan pembentukan entitas infrastruktur terpadu. 

Reformasi itu tidak selalu berbentuk merger besar sekaligus, tetapi melalui integrasi bertahap antar-unit bisnis untuk menciptakan efisiensi jaringan multimoda. Bahkan, kerja sama lintas negara seperti penggabungan aktivitas freight antara Jerman dan Belanda (Railion) menunjukkan bahwa merger dapat menjadi instrumen untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan efisiensi operasional di tingkat regional. 

Pendekatan itu menegaskan bahwa keberhasilan merger sering kali bergantung pada sequencing reform, bukan hanya pada keputusan tunggal, melainkan pada proses integrasi yang berlapis.

Dalam perspektif regulasi, studi OECD menunjukkan bahwa merger di sektor transportasi dan logistik di negara maju umumnya relatif tidak menimbulkan masalah dalam persaingan jika pangsa pasar gabungan tetap terkendali dan diiringi pengendalian yang kuat. 

Itu menjadi poin penting: negara maju tidak sekadar mendorong konsolidasi, tetapi juga memastikan bahwa merger tidak menghapus insentif efisiensi melalui praktik monopoli. Dengan kata lain, merger yang efektif selalu diiringi desain kelembagaan yang menjaga tekanan kompetitif, baik melalui regulasi maupun mekanisme pasar internal.

Lebih jauh, studi literatur tentang state-owned multinationals menunjukkan bahwa BUMN di negara maju maupun emerging economies memainkan peran signifikan dalam ekspansi global dan investasi lintas negara, tetapi juga menghadapi risiko distorsi akibat intervensi non-ekonomi, seperti dinamika politik dan sosial. 

Dalam konteks merger, itu berarti keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh integrasi aset, tetapi juga oleh seberapa jauh pemerintah mampu membatasi intervensi politik yang kontraproduktif. 

Negara-negara seperti Jerman dan Singapura relatif berhasil karena adanya komitmen kuat dalam memberikan otonomi manajerial yang independen, sedangkan negara yang masih mempertahankan kontrol politik kuat cenderung menghadapi masalah efisiensi jangka panjang. 

Dengan demikian, benchmarking internasional mengarah pada satu pola konsisten: merger BUMN logistik dapat meningkatkan kinerja jika memenuhi tiga prasyarat empiris. Yakni, pertama, dilakukan sebagai respons terhadap tekanan struktural, bukan sekadar kebijakan administratif. 

Kedua, diiringi restrukturisasi operasional dan integrasi sistem yang mendalam. 

Dan ketiga, tetap berada dalam kerangka tata kelola yang menjaga disiplin pasar. 

Tanpa ketiga elemen itu, pengalaman global justru menunjukkan bahwa merger berpotensi menciptakan entitas besar yang kehilangan kelincahan, sebuah paradoks klasik dalam ekonomi organisasi modern. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: