Menyeruput Liberika dalam Workshop Membatik Chevalier Inc: Batik Tulis dan Ampas Kopi
KAIN BATIK dibentangkan di hadapan para peserta workshop agar bisa ditilik detailnya. Workshop Batik digelar Chevalier Inc di Atrium Pakuwon Trade Center Sabtu, 15 Agustus 2026.-Ilmi Bening-Harian Disway
Hubungan batik dan kopi lebih erat dari visual secangkir kopi di atas meja bertaplak batik. The Collector’s Atelier Independence Day Special yang diselenggarakan Chevalier Inc mengungkap relasi tersebut dalam Batik & Brew.
AROMA kopi menggoda saat Harian Disway memasuki Atrium Pakuwon Trade Center (PTC) pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026. Manual Brew Demo yang menjadi rangkaian awal Batik & Brew sedang berlangsung. Para penyuka kopi mengerumuni Dendy Zen.
Lelaki muda itu memperkenalkan cara menyeduh kopi ala barista sekaligus mengajak peserta mencicipi liberika. "Buat saya, menyeduh kopi itu bisa bikin rileks pikiran," ujarnya sembari sibuk menuangkan kopi ke gelas-gelas kecil untuk peserta.
Tak jauh dari lokasi itu, sebuah tungku dan panci kecil berisi lilin/malam tersaji di atas meja. Lembaran-lembaran kain berbagai motif menemaninya. Di sekitar meja, duduk para peserta Batik Workshop.
BACA JUGA:Mitra Binaan PEPC JTB Field Ramaikan Wastra Batik Festival, Catat Transaksi Rp30 Juta
BACA JUGA:Cinta Batik Semarang Dapat Dukungan LinkUMKM BRI, Sukses Tembus Pasar Internasional
Dudung Alie Syahbana menjadi mentor pagi itu. Ia mengajari para peserta cara membatik dengan canting. Kendati teknologi bisa meringkas proses membatik, seniman batik asal Pekalongan itu tetap setia dengan cara lawas, yakni membuat motif batik dengan canting dan malam.

DUDUNG ALIE SYAHBANA, seniman batik asal Pekalongan, memberikan contoh membatik dengan canting saat workshop di Atrium PTC Surabaya pada Sabtu, 15 Agustus 2026. -Ilmi Bening-Harian Disway
Ia mengajak generasi muda ikut melestarikan batik. Karena itulah workshop menyasar anak-anak muda. Menurut Dudung, generasi masa kini harus kenal batik, karena batik adalah identitas bangsa.
"Batik terkadang dianggap generasi muda sekarang sebagai pengetahuan kuno yang tidak relate dengan aliran kekinian. Anggaran salah itu harus kita luruskan dan edukasikan kepada mereka," ungkapnya.
Hari itu, Dudung mengajak para peserta workshop berkenalan dengan canting. Karena baru pertama melihat, maka sebagian besar peserta belum bisa memegang canting dengan benar.
BACA JUGA:Workshop bersama Batik Teyeng Surabaya: Proses Mencanting sampai Ngelorot Tuntas dalam Dua Jam
Mereka juga takut-takut saat mencelupkan canting ke dalam larutan malam yang panas. Tantangan berikutnya adalah menggoreskan canting berisi malam itu pada kain.
Salah seorang peserta menekan kain terlalu keras sehingga cairan malamnya mengalir kemana-mana. "Cairannya menetes-netes, menodai bagian lain di luar motifnya. Ternyata tidak mudah ya," katanya lalu mengambil kain baru dengan motif berbeda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: