Menyeruput Liberika dalam Workshop Membatik Chevalier Inc: Batik Tulis dan Ampas Kopi

Menyeruput Liberika dalam Workshop Membatik Chevalier Inc: Batik Tulis dan Ampas Kopi

KAIN BATIK dibentangkan di hadapan para peserta workshop agar bisa ditilik detailnya. Workshop Batik digelar Chevalier Inc di Atrium Pakuwon Trade Center Sabtu, 15 Agustus 2026.-Ilmi Bening-Harian Disway


PESERTA WORKSHOP sibuk mencanting di atas kain yang sudah digambari motif pada Sabtu, 15 Agustus 2026.-Ilmi Bening-Harian Disway

Sebaliknya, hanya dalam hitungan menit, Dudung bisa menghasilkan batik. Skill lelaki berjuluk Master Kerajinan Wilayah Asia Pasifik 2023 dari Dewan Kerajinan Dunia itu memang tak diragukan lagi. Setelah memberikan contoh, ia lantas berkeliling dan mengajari para peserta mencanting.

Dalam sesi talk show, Dudung menceritakan asal-usul batik kepada peserta. "Batik itu lahir karena orang zaman dahulu membaca alam Nusantara. Motif batik itu juga termasuk pengetahuan visual," terangnya.

BACA JUGA:Diskusi Publik: Buketan hingga Bayonet Jejak Kolonial dalam Batik, Gugah Kesadaran Kritis & Sikap Dekolonisasi

BACA JUGA:Batik Surabaya: Identitas Kota yang Tercurah di Atas Wastra

Misalnya, ketika melihat air, lahirlah motif yang terinspirasi dari bentuk tersebut. Batik juga merupakan pengetahuan rasa. Sebab itu, setiap daerah memiliki ciri khas batik masing-masing.

Ada olah rasa yang dituangkan oleh pembuatnya di atas kain. Batik mengakar pada kebudayaan, filosofi, pengetahuan, dan keterampilan. 

Veve Ezy, peserta asal Surabaya, salut kepada para pengrajin batik karena ternyata prosesnya tidak mudah. "Jadi, teman-teman, belilah batik Indonesia sesuai dengan harganya karena memang benar-benar susah sekali, seninya sangat tinggi," pesannya.

Pada langkah terakhir pembuatan batik, para peserta diajak mewarnai karya mereka dengan ampas kopi. "Limbah kopi ini pewarnaannya juga tidak  kalah bagus dengan pewarna sintetis. Hanya saja, kain dengan pewarna alami ini tidak bisa dicuci sembarangan," kata Supeni Saputri dari Batik Jompong.

BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (5): Kampung Batik Jetis Tunggu Waktu Menuju Punah

BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (4): Kampung Batik Jetis, Hidup Segan Mati Enggan


HASIL KARYA dua peserta Workshop Batik Chevalier Inc di Atrium PTC Surabaya pada Sabtu, 15 Agustus 2026.-Ilmi Bening-Harian Disway

Supeni menyarankan agar pencucian batik menggunakan lerak. Kain batik juga tak boleh dijemur di bawah sinar matahari langsung. "Cukup diangin-anginkan. Sebab, pewarna alami sangat sensitif dengan suhu, panas, dan zat kimia," paparnya.

Sementara itu, Founder Chevalier Inc Jessica C. Zen mengatakan bahwa acara hari itu memang sengaja mempertemukan para pengrajin batik dan peracik kopi dengan audiens. Khususnya, penyuka batik dan penggemar kopi. Sebab, ada jejak kopi dalam batik yang dikreasikan hari itu.

"Semoga para peserta bisa lebih mencintai batik sebagai warisan budaya nenek moyang kita. Di zaman sekarang, warisan budaya adalah harta yang tidak bisa digantikan oleh artificial intelligence atau AI," tegasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: