Batik Surabaya: Identitas Kota yang Tercurah di Atas Wastra

Batik Surabaya: Identitas Kota yang Tercurah di Atas Wastra

ILUSTRASI Batik Surabaya: Identitas Kota yang Tercurah di Atas Wastra.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

DI tengah dinamika kota metropolitan, Surabaya juga memiliki batik khas yang terus berkembang dan membangun identitasnya sendiri. Sebagai kota pelabuhan yang sejak lama menjadi titik pertemuan berbagai budaya, Surabaya melahirkan motif batik yang berbeda dengan daerah lain di Jawa. Batik Surabaya mungkin belum sepopuler batik dari daerah lainnya seperti Solo, Yogyakarta, atau Pekalongan. 

Namun, justru di situlah letak keistimewaannya. Ia tumbuh dari karakter kota yang keras dan dinamis, menjadi titik temu dari segala sisi. Motif-motifnya merekam kehidupan masyarakat Surabaya dengan cara yang khas: lugas, berani, dan penuh simbol lokal. 

Di tengah modernisasi kota metropolitan, batik Surabaya menjadi pengingat bahwa identitas budaya tidak selalu harus ditemukan di masa lalu yang jauh (sering dianggap kuno). Kadang, ia justru lahir dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

BACA JUGA:Bikin Batik Surabaya Populer lewat Talkshow dan Draping di Loka Batik 2025

BACA JUGA:Fashion Show Pesona Batik Surabaya, Eri Cahyadi Ingin Motif Batik Khas Surabaya Mendunia

Sebagai kota metropolitan, Surabaya sering diasosiasikan dengan gedung tinggi, jalan padat, dan kehidupan urban yang serbacepat. Namun, di balik itu, aktivitas membatik tetap berjalan meski sering kali dalam skala kecil dan dalam lingkup komunitas. 

Dalam beberapa tahun terakhir, upaya menghidupkan kembali batik Surabaya makin terasa. Pemerintah Kota Surabaya bersama dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Surabaya aktif menggelar berbagai program untuk mempromosikan kerajinan batik lokal, mulai pameran yang ditampilkan di pagelaran fashion show internasional dan loka batik. 

Di sisi lain, pada 2024, telah diadakan pula Lomba Desain Motif Batik Suroboyo oleh Pemerintah Kota Surabaya dan Dekranasda yang turut melibatkan generasi muda untuk mendesain motif baru yang lebih variatif dan modern. 

Perlahan, batik tidak lagi hanya hadir sebagai sebuah wastra, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup urban.

Motif batik Surabaya banyak mengambil inspirasi dari berbagai elemen yang melekat pada kehidupan dan kisah dari kota itu. Ada motif Semanggi yang terinspirasi dari kuliner khas Surabaya, motif Ujung Galuh yang merujuk pada nama awal Kota Surabaya sebelumnya, serta motif Sura dan Baya yang mengadaptasi simbol ikonik Surabaya. 

Selain itu, beberapa perajin mengembangkan motif lain seperti Sparkling, Kintir-kintiran, dan Abhi Boyo yang mencoba merepresentasikan dinamika kota pelabuhan yang terus berkembang. 

Ragam motif itu menunjukkan bahwa batik Surabaya tidak hanya berangkat dari tradisi ataupun legenda, tetapi juga dari pengalaman keseharian masyarakatnya. 

Batik Surabaya kini dapat ditemukan dalam berbagai bentuk: kemeja, gaun kontemporer, hingga aksesori fesyen. Variasi itu menunjukkan bahwa batik tidak harus terjebak dalam citra ”pakaian formal” atau ”busana acara resmi”. 

Ia bisa bergerak mengikuti zaman tanpa kehilangan akarnya. Fenomena itu juga menunjukkan bagaimana budaya lokal dapat beradaptasi dengan ekonomi kreatif. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: