Batik Surabaya: Identitas Kota yang Tercurah di Atas Wastra

Batik Surabaya: Identitas Kota yang Tercurah di Atas Wastra

ILUSTRASI Batik Surabaya: Identitas Kota yang Tercurah di Atas Wastra.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Salah satu tempat yang aktif menampilkan dan menjual batik Surabaya hingga saat ini adalah Surabaya Kriya Gallery Siola dan Merr yang juga dinaungi Dekranasda Surabaya. 

Ruang-ruang itu menjadi etalase bagi batik Surabaya agar lebih dikenal oleh publik sekaligus mendekatkan produk kerajinan kota dengan warga lokal dan wisatawan. 

BATIK SEBAGAI PROSES PEMBENTUKAN IDENTITAS KOTA

Melampaui fungsi estetika dan ekonomi, batik Surabaya mulai bergerak ke arah yang lebih substansial, yakni sebagai bagian dari proses pembentukan identitas kota. 

Identitas kota sendiri pada dasarnya tidak hadir begitu saja, tetapi terbentuk melalui proses sosial dan kultural yang terus berjalan. Dalam konteks ini, batik dapat dilihat sebagai medium yang ikut membentuk cara Kota Surabaya dipahami.

Proses tersebut dimulai dari bagaimana makna diproduksi. Motif batik tidak lagi sekadar menjadi hiasan visual, tetapi menjadi cara untuk memberi arti pada berbagai elemen kota. 

Ketika ruang, sejarah, dan keseharian masyarakat diterjemahkan ke dalam motif, ada proses memilih sekaligus menegaskan: hal-hal apa yang dianggap penting untuk mewakili Surabaya. Dari sana, batik perlahan menyusun narasi kota yang bisa dikenali, diingat, dan terus dihidupkan kembali.

Di sisi lain, identitas itu juga dibentuk banyak pihak. Ada peran pemerintah, perajin, komunitas kreatif, hingga masyarakat sebagai pengguna. Masing-masing membawa cara pandang dan kepentingannya sendiri sehingga identitas batik Surabaya tidak pernah tunggal. 

Justru dari pertemuan berbagai perspektif itulah identitas tersebut menemukan bentuknya, bukan sebagai sesuatu yang dipaksakan, melainkan yang tumbuh dari keterlibatan bersama.

Namun, proses pembentukan identitas itu tidak berlangsung tanpa tantangan. Persoalan utamanya bukan semata-mata pada proses membatik, melainkan pada upaya memperkuat pengenalan batik Surabaya di tengah dominasi daerah lain yang telah lebih dahulu dikenal. 

Hingga kini, banyak masyarakat yang masih mengasosiasikan batik dengan kota-kota seperti Pekalongan, Surakarta, atau Yogyakarta. Di titik itu, batik Surabaya masih berada dalam tahap membangun pengakuan sebagai bagian dari identitas budaya kota.

Kondisi tersebut justru menegaskan pentingnya promosi, inovasi desain, dan penguatan narasi budaya. Ketiganya menjadi cara agar batik Surabaya tidak hanya hadir, tetapi juga diingat dan dibedakan. 

Di saat yang sama, persaingan dengan tekstil bermotif batik yang diproduksi secara massal turut menjadi tantangan. Produk-produk tersebut hadir dengan harga yang jauh lebih terjangkau sehingga perajin batik tulis dan batik cap perlu bekerja lebih keras untuk menjaga keberlanjutan usahanya.

BATIK TIDAK HANYA MOTIF PADA WASTRA

Batik Surabaya pada akhirnya bukan hanya tentang motif pada wastra. Ia adalah cara masyarakat menceritakan kotanya. Setiap motif menyimpan lapisan makna, tentang legenda Sura dan Baya, tentang semanggi yang menjadi kuliner khas, tentang kehidupan pesisir yang membentuk sejarah kota itu. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: