Era Digital: Generasi Terkoneksi yang Kehilangan Perjumpaan

Era Digital: Generasi Terkoneksi yang Kehilangan Perjumpaan

ILUSTRASI Era Digital: Generasi Terkoneksi yang Kehilangan Perjumpaan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Karena itu, selain bertanya, ”sudah memahami materi?”, sesekali guru dan dosen perlu bertanya, ”bagaimana kabarmu sebenarnya?”. Pertanyaan sederhana dapat menjadi pintu bagi seseorang yang tidak tahu bagaimana memulai ceritanya.

Sekolah dan kampus juga membutuhkan lebih banyak ruang sosial: olahraga, seni, musik, teater, organisasi, kegiatan alam, komunitas hobi, dan ruang diskusi. Jangan menganggap semuanya sekadar pelengkap pendidikan.

Teknologi komunikasi harus membantu pendidikan, bukannya menghilangkan relasi dari pendidikan.

Rumah Tempat Pulang

Keluarga berperan penting dan mendasar. Banyak orang tua bekerja keras dengan alasan mulia: memberikan kehidupan terbaik kepada anak. Rumah disediakan, sekolah terbaik dipilih, kendaraan dibelikan, gawai terbaru diberikan.

Tetapi, anak tidak hanya membutuhkan fasilitas hidup. Anak membutuhkan teman menjalani hidup. Jangan sampai orang tua mengetahui nilai akademik anak, tetapi tidak mengetahui ketakutan yang sedang ia sembunyikan.

Kisah seorang anak yang lebih memilih tinggal di rumah sakit daripada pulang ke rumah seharusnya mengguncang kesadaran kita. Rumah bukan hanya tempat seseorang tinggal. 

Rumah harus menjadi ruang tempat seseorang merasa diterima ketika gagal, didengarkan ketika bingung, dan dikuatkan ketika dunia terasa terlalu berat. Tidak ada telepon paling mahal yang dapat menggantikan perasaan itu.

Kesejahteraan Bukan Hanya Materi

Negara juga perlu memperluas cara memandang kesejahteraan. Pertumbuhan ekonomi, pendapatan, lapangan kerja, dan pembangunan fisik tentu penting. Tetapi, kualitas hidup manusia tidak selesai pada indikator ekonomi.

Kesejahteraan juga berarti kesehatan mental, hubungan keluarga yang sehat, lingkungan pendidikan yang aman, kehidupan sosial yang bermakna, serta tersedianya pertolongan ketika seseorang mengalami krisis.

Karena itu, layanan kesehatan mental harus kian dekat dengan kehidupan sehari-hari: di sekolah, kampus, puskesmas, rumah sakit, dan komunitas. Guru BK, konselor, psikolog, psikiater, dan sistem rujukan harus tersedia sesuai kebutuhan. Negara juga perlu memperkuat literasi dan perlindungan digital. 

Kita tidak mungkin membawa generasi muda keluar dari dunia digital. Dunia mereka akan makin digital. Tugas kita adalah memastikan bahwa di tengah layar, algoritma, game, pesan, dan notifikasi, mereka tetap mempunyai manusia.

Saat ini yang makin langka pada zaman digital bukan koneksi. Yang makin langka adalah perjumpaan. Dan, kadang-kadang, satu perjumpaan yang tulus dapat menyelamatkan satu kehidupan. (*)

*) Suko Widodo adalah dosen Departemen Komunikasi, FISIP, Universitas Airlangga, dan ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia, Jawa Timur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: