Era Digital: Generasi Terkoneksi yang Kehilangan Perjumpaan
ILUSTRASI Era Digital: Generasi Terkoneksi yang Kehilangan Perjumpaan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Namun, penggunaan digital yang berlebihan dapat memperkuat kerentanan yang sudah ada. Gawai menyediakan pelarian yang selalu tersedia.
Ketika kecewa, buka layar. Ketika kesepian, bermain game. Ketika ingin pengakuan, unggah sesuatu. Masalah muncul ketika dunia digital tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan, tetapi perlahan mengambil alih kehidupan.
BACA JUGA:Otak Tumpul di Era Digital
BACA JUGA:Cegah Pembunuhan Karakter di Era Digital
Banyak Bertemu, Sedikit Berjumpa
Inilah paradoks zaman kini. Orang bisa makin banyak bertemu, tetapi senyatanya makin sedikit berjumpa. Kita bertemu melalui WhatsApp, Instagram, TikTok, game online, dan berbagai ruang digital. Nama muncul di layar. Pesan datang tanpa henti. Grup tidak pernah benar-benar sepi.
Seseorang dapat memiliki ratusan, bahkan ribuan, kontak. Tetapi, ketika sedang hancur pada pukul 2 dini hari, pertanyaannya sangat sederhana: siapa yang dapat ia hubungi?
Sherry Turkle dalam Alone Together mengingatkan paradoks teknologi. Manusia dapat makin terkoneksi sekaligus makin kesepian. Koneksi mempertemukan manusia, tetapi koneksi tidak otomatis melahirkan kedekatan.
Pertemuan hanya membutuhkan kehadiran. Perjumpaan membutuhkan perhatian. Orang tua dan anak tinggal serumah, tetapi jarang benar-benar berbicara. Mahasiswa hadir di kelas, tetapi dosennya tidak mengetahui bahwa ia sedang berjuang menghadapi masalah besar.
Kita menjadi masyarakat yang sangat terhubung secara teknologi, tetapi belum tentu terhubung secara emosional. Ruang digital juga menciptakan panggung perbandingan tanpa henti. Setiap hari anak muda melihat orang lain tampak lebih cantik, berhasil, kaya, bahagia, populer, atau mapan.
Padahal, yang terlihat di layar bukan kehidupan yang utuh. Ia adalah kehidupan yang telah dipilih, dipotong, disunting, dan dipamerkan. Akhirnya seseorang membandingkan kehidupannya yang utuh dengan potongan terbaik kehidupan orang lain.
Pendidikan yang Kehilangan Percakapan
Sekolah dan kampus tidak cukup menjawab persoalan ini dengan seminar kesehatan mental setahun sekali. Pendidikan harus mengembalikan perjumpaan ke dalam proses belajar.
Guru tidak hanya bertugas mengetahui apakah siswa memahami pelajaran. Dosen tidak sekadar memastikan mahasiswa hadir, mengerjakan tugas, lalu memperoleh nilai. Pendidikan juga harus mempunyai kepekaan terhadap perubahan perilaku manusia.
Mahasiswa yang biasanya aktif kemudian terus diam. Siswa yang mendadak menarik diri. Teman yang beberapa hari tidak muncul. Prestasi yang tiba-tiba jatuh. Semua itu bisa menjadi bahasa yang tidak terucapkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: