Jam’iyah Tanpa Jamaah: Membaca Metamorfosis NU di Jombang
ILUSTRASI Jam’iyah tanpa Jamaah: Membaca Metamorfosis NU di Jombang.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
BEBERAPA hari ini, Nahdlatul Ulama (NU) sedang memiliki hajatan penting, yakni Muktamar Ke-35 NU di Jombang. Publik nasional menaruh perhatian tinggi terhadap perhelatan akbar organisasi terbesar di dunia itu.
Tidak hanya karena muktamar kali ini diawali dengan berbagai tensi (politik) ketegangan cukup tinggi dalam tubuh NU, tetapi juga munculnya berbagai (isu) adanya spekulasi politik uang yang mengondisikan peserta terhadap kepentingan tertentu.
Berbagai narasi yang riuh rendah bersahutan muncul antarfaksi satu dengan lainnya. Pada sisi yang berbeda, di berbagai platform media sosial, banyak konten kritis terhadap keberlangsungan muktamar NU kali ini.
Ada yang berharap agar muktamar NU berjalan lancar dan tertib sesuai dengan marwahnya sebagai organisasinya para ulama.
BACA JUGA:Muktamar Jombang: NU Tidak Hanya Milik Nahdliyin, tetapi Juga Perekat Seluruh Anak Bangsa
BACA JUGA:Mengembalikan Muktamar Ke-35 NU kepada Maslahat, Bukan Kontestasi
Ada pula yang nyinyir bernada pesimistis bahwa hajatan akbar kali ini setali tiga uang dengan sebelumnya: hanya fokus pada perebutan pemilihan ketua Tanfidziyah maupun Rais ’Aam, sedangkan agenda penting lainnya tidak menjadi perhatian penting.
Momentum Kritik
Muktamar Ke-35 NU di Jombang selayaknyalah bukan sekadar tradisi rutin lima tahunan. Jombang merupakan tempat rahim NU dilahirkan.
Pulang ke Jombang seharusnya menjadi momen kontemplasi radikal: setelah lebih dari satu abad berdiri, ke mana bahtera organisasi kemasyarakatan terbesar di dunia itu akan berlayar? Berjalan stagnan atau mengalami berbagai perubahan fundamental sebagai organisasinya para ulama untuk kepentingan keumatan dan kebangsaan.
BACA JUGA:Tambakberas dan Muktamar NU: Titik Balik Kebangkitan Organisasi di Abad Kedua
BACA JUGA:NU, Islam, dan Diplomasi Dunia
Secara spiritual dan amaliah, kekuatan NU tidak perlu diragukan lagi. Ratusan juta warga nahdliyin konsisten berjamaah. Dari tahlilan di pelosok desa, maulidan di perkotaan, hingga tradisi ziarah kubur yang tak pernah sepi. Konsensus sosial dan amaliahnya amat solid. NU adalah pemegang saham mayoritas atas kultur keagamaan Nusantara.
Namun, di balik megahnya demografi itu, ada paradoks besar yang menuntut keberanian untuk diakui: NU sangat kuat secara jamaah (kultur amaliah), tetapi masih keteteran secara jam’iyah (kelembagaan terorganisasi), khususnya dalam ranah ekonomi dan politik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: