Fenomena Dollynomics

Fenomena Dollynomics

ILUSTRASI Fenomena Dollynomics.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Festival dapat mendongkrak omzet penjualan kuliner lokal, kerajinan, fesyen, hotel, transportasi, museum, ruang kreatif, dan destinasi wisata. Di sinilah konsep non-commodity export menjadi sangat relevan.

Indonesia tidak harus selalu mengekspor barang. Indonesia juga dapat ”mengekspor” pengalaman, cerita, musik, budaya, desain, film, permainan, kuliner, dan identitas.

Namun, ada catatan penting. Tidak semua konser otomatis menghasilkan pertumbuhan ekonomi. Jika penonton mayoritas berasal dari wilayah yang sama, uang yang berputar mungkin hanya berpindah dari satu sektor ke sektor lain. 

Dampaknya menjadi jauh lebih besar apabila pertunjukan mampu mendatangkan pengunjung dari luar daerah, memperpanjang lama tinggal, meningkatkan belanja lokal, dan menciptakan pekerjaan baru.

Karena itu, ukuran keberhasilan dollynomics bukanlah seberapa ramai sebuah panggung. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa panjang rentetan pengganda ekonominya setelah lampu panggung dipadamkan. 

Di situlah ekonomi kreatif memperoleh makna yang sesungguhnya: tidak menggantikan ekonomi komoditas secara total, tetapi menciptakan sumber pertumbuhan baru yang bertumpu pada sesuatu yang tidak mudah ditambang, tidak mudah habis, dan tidak dapat ditiru begitu saja, yakni ”imajinasi manusia”. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: