Fenomena Dollynomics

Fenomena Dollynomics

ILUSTRASI Fenomena Dollynomics.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

ADA sesuatu yang menarik dari fenomena Dolly Parton, penyanyi pop country yang baru saja berpulang, yang sulit dijelaskan hanya dengan logika penjualan musik. Ketika karya seorang artis kembali diburu konsumen, termasuk dalam format fisik yang sesungguhnya sudah dianggap usang seperti kaset, yang sebenarnya sedang dijual bukan sekadar lagu. 

Yang dibeli adalah kenangan, identitas, pengalaman, dan perasaan memiliki hubungan dengan seorang figur budaya.

Di sinilah istilah ”dollynomics”, sebuah julukan yang diberikan oleh surat kabar keuangan Financial Times, menjadi menarik. Ia menggambarkan bagaimana kekuatan seorang artis dapat menciptakan aktivitas ekonomi yang jauh melampaui panggung dan toko musik. 

Financial Times sendiri menyoroti Dolly Parton bukan hanya sebagai musisi, melainkan juga sebagai pelaku bisnis yang berhasil mengubah nama, musik, karakter personal, dan hak kekayaan intelektual menjadi aset ekonomi jangka panjang.

BACA JUGA:Dolar dan Prabowonomics

BACA JUGA:Serakahnomics

Dalam perspektif ekonomi konvensional, pertumbuhan ekonomi biasanya dikaitkan dengan produksi barang: minyak, batu bara, nikel, manufaktur, atau komoditas ekspor. Dolly Parton memperlihatkan model yang berbeda. Aset produksinya bukan terutama benda, melainkan kreativitas dan intellectual property.

Artis musik country tersebut telah menjual lebih dari 100 juta rekaman dan menulis sekitar 3.000 lagu. Ia juga mempertahankan hak atas katalog musiknya, keputusan bisnis yang membuat nilai ekonominya terus hidup melalui royalti, lisensi, pertunjukan, film, dan penggunaan komersial. 

Itu penting secara ekonomi. Barang tambang akan habis ketika diekstraksi. Namun, sebuah lagu justru dapat menghasilkan nilai berkali-kali lipat setelah diciptakan: ketika direkam, diputar, dinyanyikan kembali, digunakan dalam film, iklan, konser, merchandise, atau menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Konsumen Membeli Apa?

Fenomena kaset memberikan petunjuk penting tentang perilaku konsumen. Secara rasional, konsumen tidak membutuhkan kaset untuk mendengarkan Dolly Parton. Streaming jauh lebih praktis. Namun, perilaku konsumen tidak pernah sepenuhnya rasional.

BACA JUGA:Transformasi Ekonomi ala Prabowonomics: Solusi atau Delusi?

BACA JUGA:Swiftonomics, Kutub Baru Pertumbuhan Ekonomi

Karena itu, harga suatu produk budaya tidak hanya ditentukan oleh biaya produksinya. Ada symbolic value yang membuat konsumen bersedia membayar lebih tinggi. Karena itulah, fenomena Dolly tidak berhenti pada musik. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: